Berdasarkan Bukti Epigrafis
Saya berpikir untuk kedepannya, sebaiknya ada upaya untuk melakukan proses penerjemahan ulang terhadap prasasti-prasasti batu yang ada secara lebih hati-hati dan akurat; dimana kita menghindari upaya penafsiran terhadap kata yang sesungguhnya, kecuali pada ruang-ruang yang seharusnya. Upaya pembacaan ulang tersebut kemudian dapat dibandingkan kembali dengan hasil kerja dan pencapaian yang telah dilakukan oleh para akademisi dan intelektual sebelumnya. Proses dialektika yang baru tersebut diharapkan akan dapat membuka perspektif-perspektif baru dan terobosan-terobosan yang akan membawa pada khazanah penemuan yang bersifat lebih maju dan mencerahkan wawasan.

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk melacak jejak penggunaan kata Ci Tarum sebagai bentuk kata nama (proper name) yang merujuk pada nama sungai sebagai bagian dari kaidah penggunaan nama-nama tempat (Toponimi). Toponimi sendiri merupakan bagian dari kajian Onomastika (meliputi Toponimi dan Antroponimi) yang pada gilirannya bagian dari kajian Bahasa (Linguistik) yang seringkali digunakan sebagai pisau analisa penting dalam kajian Geografi. Sementara kajian Toponimi tersebut yang didasarkan atas kajian Lingustik akan didasarkan pada dua pendekatan sumber analisa penting. Yang pertama adalah berdasarkan data Epigrafi (teks pada prasasti) dan yang kedua adalah berdasarkan data Filologi (teks pada naskah). Asumsi dasarnya jelas dan sederhana, bahwa usia dan trend penggunaan medium batu dengan cara ditorehkan melalui alat semacam pahat loga memiliki usia jauh lebih tua dari usia dan trend penggunaan medium daun lontar dan pisau pangot logam untuk menorehkannya.

Sumber pertama yang akan kita gunakan adalah prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Sebagaimana telah dikemukakan di awal, kedepannya kita memang harus mampu untuk bisa membaca dan menerjemahkannya sendiri agar jauh lebih jernih, lebih jelas, lebih hati-hati, dan lebih memiliki kedudukan yang sederajat untuk bisa melakukan saling koreksi terhadap perkembangan keilmuan yang lebih konstruktif. Karena terkadang karena hasil pembacaan terhadap bahasa Sanskrit dan aksara Palawa dilakukan oleh sarjana asing dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa asing dan kemudian baru diterjemahkan kembali kedalam bahasa Indonesia pafa akhirnya mengalami proses distorsi di tengah jalan. Setidaknya jelas, misalkan saja pada bait-bait Anustub yang memiliki kaidah pengurutan baris kalimat-kalimat ketika tiba pada kasus nyata penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia maka hasilnya menjadi keluar dari kaidah yang seharusnya dan hanya menjadikannya sebatas penerjemahan gaya bebas saja. Hal demikian menjadi suatu kerugian bagi para analis selanjutnya yang memiliki kepentingan yang walaupun hanya terbatas pada pemanfaatan data Sejarah tersebut menjadi tidak maksimal hasilnya. Dalam kesempatan yang terbatas ini, dengan demikian saya juga masih akan menggunakan data-data yang telah tersedia sebagaimana apa adanya.

Prasasti Jambu
Sanskrit:
“siman data krtajnyo narapatir asamo yah pura tarumayam/ nama sri purnnavarmma pracura ri pusara bhedya bikhyatavarmmo/
tasyedam pada vimbadvayam arinagarot sadane nityadaksam/ bhaktanam yandripanam bhavati sukhakaram salyabhutam ripunam/”

Indonesia:
“Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyhur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.”

Kita fokuskan langsung di sini bahwa tidak ada data yang menunjukkan identifikasi nama sungai pada Prasasti Jambu yang telah dikeluarkan oleh Purnawarman pada abad ke-5 M. Adapun yang didapati dalam prasasti tersebut adalah kata TARUMAYAM, yang terdiri dari dua suku kata yakni Taruma dan Yam (asal katanya Yama); dimana suffix Yam atau Yama pada akhir kalimat dalam gramatika bahasa Sanskrit tersebut merujuk pada penegasan arti Memiliki. Tarumayam dengan demikian artinya adalah Memiliki atau lebih tepatnya Pemilik Taruma. Taruma di sini merupakan nama yang melekat sebagai suatu identitas (proper name) yang secara lebih khusus lagi adalah merujuk pada nama suatu tempat (place). Arti Taruma (atau Tarum atau yang sesungguhnya dibangun dari akar kata Taru dengan imbuhan akhir kata -Ma) tersebut pada kesempatan kali ini tidak akan kita bahas dalam skema tulisan yang terbatas ini. Cukup untuk bisa dikatakan di sini bahwa Taruma adalah nama suatu wilayah yang khusus (spesial) dan tertuju dengan jelas (fixed) yang dimiliki oleh seorang penguasa Nama SRI PURNNAVARMMA (Bernama Sri Purnawarman) yang juga merupakan proper name berupa nama manusia (Person).

Prasasti Ciaruteun
Sanskrit:
“vikkrantasyavanipat eh/
srimatah purnnavarmmanah/ tarumanagarendrasya/
visnoriva padadvayam/”

Indonesia:
“Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia.”

Pada Prasasti Ciaruten juga tidak ditemukan proper name berupa nama sungai, kecuali proper name yang diindikasikan dalam kalimat TARUMANAGARENDRASYA. Kata majemuk tersebut terdiri dari kata Taruma, Nagare, Ndra, dan Sya. Taruma merupakan nama wilayah atau nama tempat sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Nagare atau Nagara adalah suatu pernyataan yang menunjukkan sifat kelolaan suatu kesatuan wilayah administrasi dan geografi-politik yang berarti Kota atau Negara (Inggris: City atau State). Ndra, Endra, atau Indra artinya adalah bersifat penguasa, pemimpin, pangeran, atau tuan. Jika Indra tengah diartikan sebagai proper name (person) maka merujuk pada Dewa Indra yang merupakan Pemimpin dari kalangan para Dewa. Demikian juga wajar untuk sekedar menguji ulang kata Visnoriva di atas, apakah kata Visnu (Indonesia: Wisnu) di atas apakah berupa proper name yang dengan demikian berarti kata benda atau kata sifat atau kata kerja yang tentu dengan demikian akan berarti Pengelola atau Pemelihara (tanpa adanya personifikasi kata sifat atau kata kerja). Sya, Syah, Sa, adalah kata akhir yang biasa digunakan dalam bahasa Sanskrit pada nama seseorang yang menyatakan secara tegas dan spesifik orang yang dirujuk dalam suatu kalimat yang terhubung tersebut. TARUMANAGARENDRASYA dengan demikian artinya (Dia) Pemimpin Negara Taruma. Yang dimaksudkan Pemimpin Negara Taruma tentu saja konsisten dengan berita dalam prasasti sebelumnya adalah SRIMATAH PURNNAVARMMANAH (Srimatah Purnawarman). Dengan demikian kalimat TARUMANAGARENDRASYA pada prinsipnya bukan merupakan nama tempat tapi digunakan sebagai kalimat pengganti nama seseorang yakni Srimatah Purnawarman. Namun demikian di dalam kalimat tersebut secara tidak langsung mengandung unsur penamaan tempat berupa Tarumanagara (gramatika Sanskrit) atau Negara Taruma (gramatika Indonesia).

Prasasti Kebon Kopi I
Sanskrit:
“jayavisalasya tarumendrasya hastinah/airwavatabhasya vibhatidam padadvayam/”

Indonesia:
“Di sini tampak tergambar sepasang telapak kaki yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dan jaya.”

Di sini terdapat kalimat TARUMENDRASYA hastinah. Berbeda dengan kalimat sebelumnya seperti TARUMANAGARENDRASYA (Prasasti Ciaruteun) yang dan TARUMAYAM (Prasasti Jambu), maka pada kalimat ini TARUMENDRASYA artinya Pemimpin Taruma tanpa perlu mempertegas secara lebih panjang-lebar bahwa Taruma pada hakikatnya adalah sebuah Kota atau Negara. Tarume atau Taruma sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa dia berarti nama wilayah atau nama tempat. Ndra atau Indra artinya tuan, pangeran, penguasa, atau pemimpin. Dan Sya adalah kata imbuhan akhir yang mempertengas hubung antar makna pada antar kalimat yang terutama merujuk pada p
nama atau pengganti nama orang. Sementara Hastinah atau Astina artinya Gajah. TARUMENDRASYA hastinah artinya Gajah Pemimpin Taruma (maksudnya gajah itu milik Pemimpin Taruma). Hanya saja di sini tidak dinyatakan secara lugas siapa Pemimpin Taruma tersebut. Barangkali masyarakat pembaca pengumuman prasasti tersebut dianggap sudah mafhum oleh yang menguarkannya, bahwa Pemimpin Taruma tersebut dan sebagaimana telah dibandingkan dengan prasti-prasasti sebelumnya bahwa jelas maksudnya adalah Sri Purnawarman atau Srimatah Purnawarman. Di sini juga semali lagi tidak didapati nama tempat berupa sungai. Yang didapati hanya nama Gajah yang diberi nama Airavata (Indonesia: Airawata). Kata TARUMENDRASYA dengan demikian adalah kata atau kalimat pengganti yang mewakili nama dan nama Sri Purnawarman atau Srimatah Purnawarman. Dan tidak bisa dipungkiri sebagaimana dalam literatur dan khazanah kesusasteraan Hindu, Gajah milik Dewa Wisnu (Visnu) juga memang namanya Airavata. Influence Hindu dalam tradisi yang dikembangkan Sri Purnawarman jelas sangat kental dan nyata sebagaimana penggunakan kata Endra atau Narendra yang juga dapat berasosiasi dengan Dewa Indra. Dewa Pemimpin dan Penguasa yang jauh lebih kuno yang kemudian hari tergeser supremasinya oleh skema Tri Murti (Brahma, Visnu, dan Shiva).

Prasasti Cidanghiang
Sanskrit:
“vikranto yam vanipateh prabhuh satyapara (k) ra (mah)/ narendraddhvajabhutena srimatah purnnavarmmannah.”

Indonesia:
“Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.”

Di sini jelas terlihat adanya perbedaan gramatika bahasa Sanskrit yang lebih mirip seperti bahasa Inggris dengan aturan Menerangkan-Diterangkan (M-D) sementara bahasa Indonesia memiliki aturan yang sebaliknya yakni Diterangkan-Menerangkan (D-M). Di atas kalimat Srimatah Purnnavarmmanah (Yang Mulia Tuan Purnawarman) berada di akhir kalimat pada dua bait terakhir dirubah posisinya menjadi ke atas. Di sini didapati proper name seseorang bernama Srimatah Purnavarman dan sifat-sifatnya seperti Vikranto (Kuat), Vanipateh (Berkuasa), Satya (Jujur), dan Parakramah (Berpengaruh). Gelaran pada prasasti ini jauh lebih lengkap dan panjang sebenarnga yakni Narendraddhvajabhutena Srimatah Purnnavarmmanah. Narendra artinya Yang Memimpin; Ddhvaja (asal kata Dhavaja) artinya Bendera atau Panji; Bhutena artinya Nyata, Tinggi, Besar, atau Meliputi; Sri artinya suatu gelaran kebangsawanan yang menunjukkan prestasi atas kepemikikan Kekayaan, Kekuasaan, dan Kemakmuran (bandingkan dengan kata Inggris: Sir); Matah (asal kata Mata) artinya Ibu, Induk, Sumber, atau Asal (kata lainnya Matar, Matara, atau Mataram); sementara Purnnavarmman merupakan proper name (person) yang maknanya bisa dibahas pada tulisan lain. Sehingga Narendraddhvajabhutena artinya Yang memimpin panji keseluruhannya (tafsirnya adalah raja pusat di atas unit raja-raja kecil lainnya yang menjadi bawahannya) dimana dia adalah Srimatah Purnnavarmman (Tuan Besar Purnawarman). Dalam prasasti tersebut tidak disebutkan nama spesifik nama wilayah yang menjadi kekuasaannya yang tentunya sudah diangga mafhum bagi masyarakat yang membaca akan maklumatnya. Dan tentu saja tidak ada nama sungai juga dalam prasasti tersebut.

Prasasti Tugu
Sanskrit:
“pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau/
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana/
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka/
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina/

Indonesia:
“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”

Pada parasti tersebut terdapat dua buah proper name yang merujuk pada apa dapat diidentifikasi sebagai nama suatu gejala atau fenomena sungai. Dua buah nama tersebut dapat diindikasikan dengan kalimat Chandrabhagarnavam dan Nadi Ramya Gomati. Chandra artinya Bulan atau Rembulan. Bhaga artinya Tuan atau Pelindung, atau biasa diasosiasikan juga dengan makna Kesuburan, atau Kekayaan, atau Kemakmuran; dan terkadang diperhubungkan juga dengan makna Kesucian dan bahkan makna Ketuhanan; dan dalam kebudayaan Hindu, kata Bhaga seringkali juga memang diidentikan dengan arti Sungai, barangkali karena kualitas nilai-nilai yang telah disebutkan sebelumnya. Rana artinya isteri dari Raja, atau Raja Perempuan (Ratu); dimana istilah lainnya adalah Rani. Sementara kata Vam (asal kata Van) adalah kata penghubung yang menegaskan pada kualitas sifat yang dirujuk yang membuatnya menjadi kata benda (noun). Dengan demikian kita dapat menduga bahwa Chandrabhagarnavam artinya Rembulan yang Suci yang menjadikannya seperti Ratu. Chandrabhaga dengan demikian adalah sebuah proper name (river). Sementara Nadi (kata lainnya Nadya; kata lainnya lagi Darya) artinya Sungai; Ramya artinya Indah atau Cantik atau Tampan; dan Gomati yang terdiri dari dua kata yakni Go (Sapi; atau dimaknai secara umum menjadi Hewan Ternak) dan Mati (variasi dari kata Mata, Matah, Matar) artinya Ibu, Induk, Asal, Sumber, Pusat dan terkadang berasosiasi dengan arti Bumi. Nadi Ramya Gomati artinya Sungai yang Indah yang menjadi Tempat Sapi (dibaca lebih generik: Bumi Kesuburan). Chandrabhaga dengan demikian adalah proper name dan Gomati dengan demikian adalah proper name juga. Baik Chandrabhaga maupun Gomati selain terceritakan sebagai nama-nama sungai dalam literatur sastra keagamaan Hindu juga menginspirasi penamaan sungai-sungai di kawasan India hingga hari ini (selain menginspirasi nama sungai-sungai di sini pada masa Tarumanagara). Sementara gelaran nama penguasa
Taruma di sini ditulis dengan lebih berderet lagi Sri Guna Jasa Narendradhvajabhutena Srimatah Purnnavarmmanah. Guna artinya memiliki kualitas yang Baik dan Jasa artinya Berhasil. Sehingga artinya adalah Tuan yang Baik Berhasil Yang Memimpin Seluruh Panji Srimatah Purnawarman. Sementara kata Taruma sebagai nama tempat di sini kembali tidak dikemukakan secara nyata.

Dalam redaksi prasasti ini cukup jelas bahwa Sungai Chandrabaga merupakan sungai buatan yang digali oleh Purnawarman untuk dialirkan ke istananya dan kemudian dibelokkan kembali ke laut. Demikian juga Sungai Gomati dia merupakan sungai buatan yang digali oleh Purnawarman setelah masa pembuatan Chandrabhaga yang kemudian dialirkan ke tempat Pitamahasya Rajarse. Pita artinya Ayah, istilah lainnya adalah Pitar, atau Patar, atau Patara (ke dalam bahasa Indonesia menjadi Batara). Sementara Ibu adalah Mata, atau Matah, atau Matar, atau Matara. Maha adalah Besar atau Lebih. Maka yang dimaksudkan dengan Pitamaha adalah Kakek. Dan Rajarse yang dirakit dari kata Raja dan Resi, maksudnya adalah Raja yang sekaligus Resi, Pemimpin Negara yang sekaligus merupakan Pembina Agama (istilah lain Resi adalah Guru atau Pandita). Dengan demikian sungai buatan yang dinamai Gomati tersebut dialirkan menuju tempat Kakeknya tersebut yang dapat kita duga merupakan suatu lahan atau tempat yang dapat digunakan untuk mengenang dan memperingati jasa dan reputasi mendiang Kakeknya. Jika mau merujuk pada Naskah Wangsakerta dari Kesultanan Cirebon kita akan jelas mengetahui bahwa nama Kakek dari Purnawarman tersebut adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman yang merupakan pendiri Tarumanagara. Sungai buatan tersebut dibuat selama 21 hari dengan panjang 6.122 busur panah. Ukuran rata-rata busur panah kuno adalah 70 cm, maka panjang Gomati adalah 428.540 CM yang jika dikonversi menjadi 4,28540 KM (4,3 KM).

Melalui pengkajian terhadap aspek Epigrafi berupa prasasti-prasasti batu peninggalan Purnawarman pada pertengahan abad ke-5 M kita dapat mengetahui bahwa belum ada suatu sungai yang diberikan nama sebagai Ci Tarum (Air Tarum atau Sungai Tarum). Adapun Tarum pada masa ini dengan sangat jernih dan jelas justru merujuk pada nama identitas suatu wilayah atau kawasan administrasi Geopolitik Negara. Kemudian dalam prasasti tersebut dapat diketahui ada nama dua buah sungai yang bernama Chandrabhaga dan Gomati hanya saja kita mengetahui bahwa kedua sungai tersebut adalah dua buah sungai buatan. Dalam pengertian ilmiah modern kita akan lebih tepat untuk mengatakannya sebagai Canal, atau Sodetan, atau Terusan. Canal, Sodetan, atau Terusan tersebut tentunya haruslah berasal dari suatu aliran sungai yang asli yang alamiah yang dalam kepentingan prasasti tersebut belum begitu dianggap penting untuk dinamai atau dikemukakan namanya. Pada tahun antara 450-500 M dapat disimpulkan dalam batas kajian tekstual Epigrafi, nama Ci Tarum sebagai sungai belum ada dan belum dikenal sama sekali. Nama Tarum telah dikenal lebih dahulu sebagai nama suatu kerajaan. Atau dengan kata lain kelahiran nama Taruma sebagai nama Negara mendahului kelahiran nama Taruma atau Tarum sebagai Nadi (Sungai) yang baru lahir kemudian. Dan pada umumnya nama-nama tersebut jelas merujuk pada dasar-dasar penguasaan bahasa Sanskrit, bukan berdasarkan bahasa Austronesia. Sehingga dengan demikian, arti Taruma juga harus disandarkan pada usaha penggalian maknanya dalam bahasa Sanskrit tersebut. (Lokasi Kabuyutan Cikahuripan dengan latar Situ Cisanti yang menyatu dibelakangnya; bersama teman-teman Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam IAIN SGD Bandung pada tahun 2001 M)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)