Laskar Pejuang BKR/TKR Bandung Utara Versus Pasukan Elit Inggris Brigade Gurkha

Tanggal 19 Desember 1945, pagi-pagi sekali pasukan Inggris telah mengerahkan tentaranya, terutama terdiri dari serdadu-serdadu Gurkha. Mereka terus bergerak dari pusat kota Bandung ke Utara memasuki Jalan Setiabudhi (dulu Jalan Lembang).

Tujuannya untuk menghancurkan basis pertahanan laskar pejuang Bandung Utara yang dianggapnya terlalu sering menimbulkan kekacauan terhadap kedudukan tentara Sekutu yang sedang melaksanakan tugas operasinya di Kota Bandung.

Serdadu-serdadu Gurkha sesungguhnya merupakan serdadu-serdadu bayaran (mercenaries) yang direkrut pihak militer Inggris ke dalam jajaran elit. Meski menyandang status sebagai legiun asing, serdadu-serdadu Gurkha memdapatkan perlakuan secara terhormat dari pihak militer Inggris, layaknya tentara-tentara Inggris lainnya.

Di antara serdadu-serdadu Gurkha dengan pihak militer Inggris telah terjalin hubungan historis dan psikologis yang kental. Gurkha juga sangat besar jasanya di dalam banyak medan pertempuran dan kemenangan yang gemilang bersama militer Inggris.

Bahkan, dikarenakan kemampuan bertempurnya yang menakjubkan, maka pihak militer Inggris merekrutnya ke dalam unit khusus yang dikenal dunia sebagai Brigade of Gurkha.

Serdadu-serdadu yang tergabung dalam Brigade of Gurkha biasa di sebut sebagai Gurkha saja. Penyebutan tersebut ternyata dikarenakan seluruh anggota brigade tersebut memang berasal dari suku Gurkha.

Salah-satu suku yang bermukim di wilayah Nepal (bagian dari India). Karena keunikan karakteristik budayanya, maka masyarakat dunia sesunguhnya mengenal dua suku besar di wilayah Nepal. Pertama Smsuku Gurkha dan kedua suku Sherpa.

Jika Gurkha dikenal dunia karena reputasi budaya tempurnya yang militan dan alamiah. Maka suku Sherpa—yang juga tersebar luas di wilayah Tibet (dicaplok menjadi bagian dari RRC)—dikenal juga karena kekuatan dan kemampuannya bertahan hidup di zona paling ekstrim.

Dan seperti halnya suku Gurkha, orang-orang Sherpa yang bekerja dalam bisnis pemanduan dan porter pendakian di kawasan es pegunungan Himalaya pun, disebut pula dengan identitas sukunya, Sherpa.

Dalam rangka menghadapi keterlibatan pasukan gabungan (Sekutu), khususnya serdadu-serdadu Gurkha itu, kemudian laskar pejuang Bandung Utara akan membuktikan harga dirinya dalam pertempuran yang sengit demi membela nilai-nilai luhur kemerdekaan.


Pada malam hari sebelum serangan dari tentara Sekutu yang merupakan aliansi Inggris, Gurkha, dan Belanda dilancarkan; pimpinan Batalyon Bandung Utara, yakni Mayor Sukanda Bratamanggala memperoleh informasi bahwa pihak musuh juga akan melakukan penculikan terhadap isteri tokoh pejuang kebangsaan Indonesia, Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (Danudirja Setiabudhi).

Upaya penculikan tersebut akan dilakukan dengan harapan bisa meredam sepak-terjang politik suaminya yang karena masa-masa perjuangan itu, membuat Dr. E. F. E. Douwes Dekker (1879-1950) masih harus hidup terpisah dari isterinya.

Isteri tokoh pejuang kebangsaan itu, Clara Charlotte Deije (1885-1968), pada waktu itu bertempat tinggal di sebelah Selatan Jalan Gegerkalong Hilir (dulu namanya Cigolendang), di tepi Jalan Setiabudhi, rumahnya itu menghadap ke sebelah Barat.

Sehubungan dengan adanya upaya antisipasi terhadap penculikan tersebut, maka pimpinan Batalyon Bandung Utara memberikan instruksi khusus kepada Letnan Hamid, Sersan Bajuri, Sersan Sodik, dan Sersan Surip untuk menjemput dan mengamankan Ibu Douwes Dekker.

Sementara para pejuang lainnya, sejak semalaman terus bersiap-siap menghadapi kemungkinan datangnya serangan dari pihak musuh. Sedangkan yang diserahi tugas sebagai Pimpinan Umum dalam upaya menahan serangan tentara Inggris ini ialah Kapten Sentot Iskandardinata, yang merupakan putra dari pejuang kebangsaan; Otto Iskandardinata.

Para pejuang Bandung Utara lantas membuat rintangan-rintangan untuk menahan gerak laju tentara musuh, dengan menumbangkan beberapa pohon Mahoni yang tumbuh di tepi jalan, mulai dari yang sekarang merupakan kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di bagian Selatan, sampai persimpangan Jalan Gegerkalong Hilir.

Pohon-pohon yang sudah ditebang itu dipasang secara melintang untuk menghalangi jalan. Dalam upayanya tersebut, tentunya diperlukan banyak sekali tenaga. Maka, untuk kepentingan tersebut yang paling tepat untuk diberikan tugas ialah Sukarya, karena selain anggota BKR/TKR, Sukarya juga merupakan pimpinan pemuda Sukarasa (saat ini ada SDN Sukarasa).

Sehingga dalam waktu singkat, rintangan yang diperlukan pun sudah berhasil terpasang melalui bantuan para pemuda dan rakyat yang terlibat dengan penuh semangat. Bagian jalan yang sudah dipasang rintangan itu kemudian ditaburi rumput kering dan ditempatkan pula satu gentong bensin.

Rencananya, jika nanti kendaraan musuh telah masuk perangkap; gentong yang diisi bensin akan ditembaki hingga bensinnya terbakar dan merambati rumput kering yang dipersiapkan untuk membakar kendaraan yang terjebak.

Keesokan harinya rombongan Letnan Hamid yang ditugaskan menjemput Ibu Douwes Dekker, pada kira-kira jam 06.00 pagi sudah tiba di sekitar depan bangunan Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan FPTK UPI yang pada waktu itu masih merupakan tanah pesawahan, ketika serangan tentara Inggris dari arah Selatan mulai meletus.

Terjadilah tembak-menembak di antara para pejuang yang bertahan di garis depan dengan pasukan musuh yang berusaha menerobos pertahanan Indonesia. Terdorong oleh semangat perjuangan yang menyala-nyala, maka setelah menitipkan Ibu Douwes Dekker di garis belakang, Letnan Hamid dengan anggota pasukannya kembali bergerak ke medan pertempuran dengan maksud memperkuat pasukan Indonesia yang sedang berjuang menahan serangan lawan di garis depan.

Gugurnya Pahlawan BKR/TKR dan Laskar Bandung Utara

Daerah yang berada di bawah pengawasan Batalyon BKR/TKR Bandung Utara Pimpinan Mayor Sukanda Bratamanggala, meliputi jalan raya yang membentang dari Selatan kompleks Villa Isola hingga ke kota Lembang di sebelah Utara.

Dari kota Lembang wilayah pengawasannya terus meluas ke arah Barat hingga ke mencapai daerah Cisarua. Dari Cisarua turun hingga Jalan Kolonel Masturi di Kota Cimahi. Sedangkan dari Villa Isola, wilayah pengawasannya terus membentang ke Timur hingga ke daerah Ciumbuleuit dan Dago Pakar. Kemudian turun ke Selatan menuju kawasan Simpang Dago.

Kompleks UPI dengan bangunan utamanya Villa Isola, saat itu difungsikan sebagai pusat pertahanan terdepan (front line) Batalyon BKR/TKR Bandung Utara.

Sedangkan kota Lembang dijadikannya sebagai markas pusat (commando post) dan tempat recovery anggota Batalyon BKR/TKR Bandung Utara yang secara bergiliran mengisi lini-lini pertahanan yang telah ditetapkan.

Alasan yang membuat kota Lembang pada akhirnya dijadikan markas adalah karena faktor keterdesakan yang terus-menerus, bahkan ketika Sekutu belum datang. Kekalahan Jepang pada Perang Asia Timur Raya/Pasifik, membuat pihak militer Jepang mengembalikan wilayah Indonesia sebagai status quo.

Sehingga ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Jepang dalam posisi yang serba bingung. Di satu sisi dia harus menjaga situasi sebagaimana sediakala hingga diserahkan kepada Sekutu. Sedang dilain pihak, pemerintah Republik Indonesia mendesak Jepang untuk memberikan dukungannya, termasuk persenjataan sebagai janji dan modal kemerdekaan.

Dan jika pun pada akhirnya, Lembang juga dapat diduduki musuh, maka masih akan banyak tempat-tempat di pedalaman (pegunungan utara Bandung) yang dapat digunakan sebagai tempat untuk berlindung dan sekaligus melancarkan serangan balik secara gerilya, atau mundur ke Utara menuju Subang.

Klimaks keterdesakan BKR/TKR bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum dari pihak Sekutu pada tanggal 29 November 1945 yang memaksa agar orang-orang Indonesia, terutama para pegawai pemerintahan dan pihak militer, dan laskar-laskar perjuangan Republik Indonesia meninggalkan Bandung Utara, dengan tapal batasnya berupa lintasan/rel kereta api yang membentang di Timur-Barat Kota Bandung, maka posisi BKR/TKR Bandung Utara semakin terdesak dan terputus dari koordisasi para pejuang yang menempati wilayah di Selatan.

Bandung Utara diharapkan Sekutu menjadi wilayah penuh operasi Sekutu dan wilayah Bandung Selatan ditoleransi bagi wilayah RI. Walaupun demikian, pejuang Bandung Utara yang terbilang memiliki personil dan persenjataan yang relatif paling lengkap tersebut tetap tidak mau mengalah dan bahkan terus saja melakukan penyusupan dan perlawanan.

Hingga pernah pada peristiwa sebelumnya, yaitu pada tanggal 24 November 1945, sebagai reaksi atas gerilya-gerilya pejuang Bandung Utara, pihak Inggris/Belanda melepaskan tembakan artileri dari sekitaran Gedung Sate yang tertuju langsung ke Villa Isola. Tembakan tersebut tepat mengenai sasaran yang mengakibatkan bangunan Villa Isola mengalami rusak berat, walaupun beruntung tak ada satu korban jiwa pun yang jatuh.


Daerah yang membentang dari Villa Isola hingga Lembang tersebut terbagi ke dalam tiga lini utama.

Lini kesatu, merupakan lini pertahanan terdepan yang meliputi kompleks Villa Isola dengan perluasannya yang membentang meliputi ke daerah Barat dan Timurnya.

Lini kedua, memanjang ke daerah Barat dan Timur dari gedung peneropongan bintang Boscha sebagai pusatnya. Di mana di kompleks bangunan tersebut didirikan pos pengawas dengan fasilitas teropong bumi jarak jauh yang mampu mengawasi gerak-gerik orang dan kendaraan yang masuk lewat Jalan Setiabudhi, hingga gerakan musuh yang akan menyerbu akan segera diantisipasi.

Dan lini ketiga, meliputi kota Lembang dengan perluasannya ke arah Barat dan Timurnya.

Dalam rangka menghadapi pertempuran dengan tentara Sekutu/Inggris/Gurkha tersebut, ditempatkanlah empat buah pos pertahanan BKR/TKR di sekitar kompleks Villa Isola (UPI).

Pos pertahanan I, merupakan pos pertahanan terdepan. Pos ini berada di bawah pimpinan Letnan Kustama, tempatnya kira-kira di seberang bangunan FPTK sekarang. Ke pos inilah kemudian Letnan Hamid dan pasukannya menggabungkan diri.

Ke sebelah utaranya berturut-turut sampai ke ujung kompleks Villa Isola ditempatkan pos pertahanan II, III dan IV yang masing-masing dipimpin oleh Letnan Mahdar, Letnan Anda Mansyur, dan Sersan Mayor Muhtar.

Pos-pos pertahanan tersebut terletak di pinggir kompleks UPI, di tepi Jalan Setiabudhi, dengan masing-masing kekuatan sebesar satu Peleton.

Dikarenakan mulai dari Jalan Gegerkalong Hilir penuh rintangan, maka tentara Inggris dengan menggunakan kendaraan lapis baja menerobosnya dibagian kiri dan kanan jalan.

Di antara mereka ada yang langsung terlibat dalam pertempuran pertama. Para pejuang Indonesia memberikan perlawanan dengan penuh keberanian sebagai upaya penyingkiran.

Tetapi tentara Inggris dengan persenjataannya yang kuat terus mendesaknya. Hingga pada akhirnya Inggris berhasil melancarkan serangan dasyat dengan menerobos memasuki jantung pertahanan peleton II dan III dan membuat peleton I terputus dari bantuan.

Situasi semakin memburuk, hingga sisa pilihan adalah menutup jalan raya agar tidak terus terjadi penetrasi ke arah Lembang, di mana markas BKR/TKR dipusatkan.

Beruntung, pada kira-kira pukul 11.00, tembak-menembak di antara para pejuang Indonesia dengan tentara Inggris berakhir. Pada kenyataannya, pasukan Inggris pun tidak terus menduduki kompleks Villa Isola/UPI dan sekitarnya.

Mereka memilih menarik diri dan kembali menuju kota Bandung untuk menghindari resiko pertempuran yang lebih dasyat. Pertempuran berakhir dan keadaan kembali tenang. Lalu dilakukanlah pemeriksaan ke tempat-tempat bekas pertempuran, diantaranya di Jalan Panorama.

Dan ternyata di sana ditemukan empat sosok tubuh pejuang BKR/TKR yang gugur dalam upayanya mempertahankan garis depan pertahanan (front line). Mereka yang gugur tidak lain adalah Letnan Hamid, Sersan Bajuri, Sersan Sodik, dan Sersan Surip yang saat ini terabadikan menjadi nama-nama jalan di sekitar persimpangan-persimpangan Jalan Setiabudhi.

Selain dari para pejuang BKR/TKR, ternyata jatuh korban pula dari para pejuang yang tergabung ke dalam laskar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orang.

Keempat jenazah pahlawan dari Batalyon BKR/TKR Bandung Utara tersebut—Kapten Abdul Hamid (setelah dinaikkan pangkatnya secara anumerta), Sersan Bajuri, Sersan Sodik, dan Sersan Surip, kemudian dimakamkan di suatu bukit (bahasa Sunda: pasir) di daerah Batureok, Cihideung—Lembang, yang juga dikenal sebagai Pasir Pahlawan atau makam peringatan terhadap ‘Si Jalak Harupat’ (Otto Iskandardinata).

Para pahlawan tersebut dimakamkan di tempat yang tinggi sebagai simbolisasi agar ‘jiwa’ mereka bisa terus-menerus menatap keindahan dataran tinggi Kota Bandung, yang merupakan bagian dari tanah air Indonesia, yang cita-cita kemerdekaannya telah berhasil mereka pertahankan dari ancaman kekuasaan asing.

Asal Usul Batalion BKR/TKR Bandung Utara

Pada malam menjelang tanggal 14 Agustus 1945, jam 21.00; seorang mahasiswa Technische Hogeschool Bandoeng (‘ITB’) bernama Mashudi datang ke rumah Cudanco Sukanda Bratamanggala.

Mashudi memberi informasi bahwa Jepang besok akan membubarkan organisasi kemiliteran yang biasa disebut dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, atau yang lebih dikenal dengan singkatan PETA.

Sukanda memang memiliki hubungan dekat dengan mahasiswa ITB, karena ia biasa memimpin penyelenggaraan latihan kemiliteran bagi para mahasiswa ITB yang dipersiapkan menjadi Shodanco atau Komandan Peleton.

Waktu malam sebelum tanggal 14 Agustus 1945, memang ada perintah dari pihak militer Jepang yang ditujukan kepada para anggota PETA Daidan III, supaya mereka dengan persenjataan lengkap melakukan apel di halaman markas Daidan III.

Kemudian, terbukti dalam apel yang dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1945, sebagai dalih; pimpinan militer Jepang mengatakan bahwa akan didatangkan persenjataan baru, karena itu persenjataan lama yang ada di tangan para anggota PETA harus dikumpulkan.

Di sekeliling markas Daidan III, telah siap berjaga-jaga anggota tentara Jepang lengkap dengan segala persenjataannya. Setelah semua perenjataan dikumpulkan, para anggota PETA dibubarkan; setelah beberapa waktu baru sadar bahwa mereka sudah dilucuti.

Tindakan yang dilakukan oleh pimpinan militer Jepang rupanya berdasarkan pertimbangan bahwa sesudah mereka tahu negaranya tidak mungkin menang dalam menghadapi Sekutu, maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diharapkan; lebih baik persenjataan para anggota PETA dilucuti lebih dulu.

Tanggal terjadinya perlucutan senjata atas para anggota PETA Daidan III, tanggal 14 Agustus 1945 adalah bersamaan dengan peristiwa menyerahnya Jepang kepada Sekutu.

Pada waktu para anggota PETA Daidan III melakukan apel dan dilucuti persenjataannya oleh pihak militer Jepang, Cudanco Sukanda sedang berada di luar markas Daidan III.

Kebetulan pada waktu itu, ada kesatuan PETA yang merupakan anggota Daidan III yang tidak terlucuti persenjataannya. Mereka sedang bertugas di Bungbulang, Pangalengan, dan Pangandaran.

Cudanco Sukanda dengan segera menghubungi melalui telepon, diantaranya kepada Shodanco Sukandi; untuk menyampaikan pesan supaya mereka jika tiba di Bandung jangan menuju maskas Daidan III, melainkan langsung menuju ke rumah Cudanco Sukanda yang terletak di tepi Jalan Cipaganti, lengkap dengan segala persenjataannya.

Ini dilakukan untuk menghindari jangan sampai mengalami nasib seperti anggota Daidan III lainnya, yang dilucuti persenjataannya oleh Jepang.

Ada sedikit kesimpang-siuran mengenai siapa yang pertama kali mengambil gagasan dibentuknya PETA tersebut. Seperti Ki Ageng Suryomentaram dari Taman Siswa bersama sembilan orang kawan yang membuat usul tertulis kepada pemerintah Jepang dengan masing-masing bubuhan tandatangan dan tetesan darah dari jemari tangan.

Ada juga kabar sebagai usul sepuluh ulama yakni K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar, dan H. Mohammad Sadr.

Jelasnya bahwa sejak tanggal 3 Oktober 1943, dibentuklah suatu wadah yang terdiri dari para pemuda Indonesia yang akan mendapat gemblengan kemiliteran dari balatentara Jepang. Pembentukan organisasi kemiliteran tersebut dilandasi oleh orientasi ke masa depan di mana suatu ketika bangsa Indonesia akan memerlukan putra-putranya yang cukup memiliki kemampuan untuk membela tanah air.

Harapan tersebut gayung bersambut dengan kepentingan Jepang yang membutuhkan simpati atau bahkan dukungan secara fisik dari masyarakat pribumi dalam skema perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) sendiri sendiri.

Kemudian setelah Indonesia mencapai kemerdekaanya, berdasarkan ketetapan PPKI dalam sidangnya pada tanggal 22 Agustus 1945; maka dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian tumbuh menjadi organisasi bersenjata resmi pemerintah Republik Indonesia.

Dan yang menjadi inti dari BKR tersebut, tentu saja adalah para eks anggota PETA. Di antara kesatuan-kesatuan PETA yang ada di Jawa Barat ialah Daidan III Priangan yang bermarkas di suatu kompleks bangunan yang terletak di belakang Masjid Cipaganti.

Daidan itu setingkat dengan Batalyon yang dipimpin oleh Daidanco yang setingkat dengan Mayor. Daidan III Priangan inilah yang kemudian akan berevolusi sebagai Batalyon BKR/TKR Bandung Utara setelah sebelumnya memindahkan markasnya ke kota Lembang demi menghindari debacle dari pihak militer Jepang.

Panji Laskar BKR/TKR Bandung Utara dan Museum Kecil Wira Yudha Batara

Artefak peperangan berupa senjata ringan, senjata berat, pedang, dan panji Batalyon BKR/TKR Bandung Utara masih terabadikan di ruang kecil museum WIRA YUDHA BATARA yang berada di lantai dua gedung perpustakaan kampus UPI, setelah keberadaannya di pindah dari gedung utama Villa Isola pada lantai dasar.

Panji utama Laskar BKR/TKR Bandung Utara adalah berupa bendera Sang Saka Merah Putih dimana pada bagian atasnya dijahitkan gambar gedung Villa Isola dengan latar belakang Gunung Tangkubanparahu.

Sementara pada bagian pinggir bendera Merah Putih tersebut diabadikan nama-nama pahlawan yang telah gugur dari Laskar BKR/TKR Bandung Utara, yakni: Sersan Sodik, Sersan Bajuri, Sersan Surip, Kapten Abdul Hamid, dan tokoh-tokoh laskar rakyat sukarelawan lainnya yang juga telah ikut gugur dalam pertempuran tersebut.

Bendera Merah-Putih bersama dengan gambar Villa Isola dan dengan latar belakang Gunung Tangkubanparahu tersebut merupakan panji kehormatan dan kebanggaan milik Laskar Pejuang TKR/BKR Bandung Utara.

Suatu laskar yang bertahan di tengah laskar-laskar lainnya yang sudah rontok dan memilih untuk mengakui garis demarkasi Sekutu-RI yang dipisahkan oleh jalur rel kereta-api sesuai dengan perjanjian.

Wilayah Utara adalah mutlak milik Sekutu dan Selatan ditoleransi sebagai milik pribumi (RI). Laskar Pejuang Bandung Utara adalah laskar yang sekuat tenaga telah berjuang untuk mempertahankan Tanah-Airnya.

Selain tinggalan-tinggalan tersebut, terdapat juga lukisan peperangan dan prasasti yang di dalamnya terdapat nama-nama para pahlawan dari Laskar BKR/TKR Bandung Utara yang tekah gugur dalam pertempuran di sepanjang bulan Agustus 1945 hingga bulan Maret 1946.

Museum tersebut semula merupakan bentuk sumbangan dan kerjasama yang dilakukan oleh Legiun Veteran Cabang Kota Bandung dengan Rektor IKIP Bandung (sekarang UPI), yakni Muhammad Numan Somantri pada tahun 1984. Pada saat ini bersama dengan dibentuknya Museum Pendidikan UPI, kemungkinan seluruh peninggalan tersebut direlokasi pada tahap akhir di tempat tersebut.

Sementara jasad pahlawan yang gugur dari Batalion BKR/TKR Bandung Utara pimpinan Mayor Sukanda Bratamanggala tersebut kemudian dikebumikan di Pasir Pahlawan (Cihideung), tempat dimana pusara simbolik Otto Iskandar Dinata (Si Jalak Harupat) sebagai korban penghilangan nyawa pertama dalam intrik-intrik politik yang keras di negara RI yang baru saja didirikan juga berada di sana.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)