Dari Bali atau Nusa Bali yang disebutkan kedua variasi katanya sebagai padanan dalam naskah Bujangga Manik, dia bergerak ke Balungbungan di ujung Timur Pulau Jawa. Lalu menuju ke pusat ibukota Majapahit hingga kemudian menyusuri kawasan pegunungan Selatan di tengah kawasan Pulau Jawa hingga tiba ke Gunung Galunggung, lalu ke Gunung Cikuray, lalu masuk ke Mandala Puntang (kabuyutan atau mandala di Gunung Puntang). Dari Mandala Puntang bergerak ke Gunung Papandayan hingga mendaki puncaknya di Panenjoan. Di Panenjoan seluruh gunung dan wilayah pemukiman yang berhasil dikelola pada masa berkuasa Nusia Larang yang dapat diduga adalah Prabu Niskala Wastu Kancana dalam naskah Carita Parahyangan yang dikatakan memang dikebumikan di Nusia Larang diperinci.

Niskala Wastu Kancana melahirkan banyak pembesar, dua diantaranya Susuk Tunggal atau Haliwungan yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Ningrat Kancana atau Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh). Dikatakan dalam naskah Carita Parhyangan, Ningrat Kancana atau Dewa Niskala ini diturunkan dari tahta karena dianggap melanggar “estri dikaluaran,” pernikahan yang dilarang dalam peraturan. Para pengulas menduga karena pada masa Ningrat Kancana dilakukan suatu pernikahan kekerabatan kembali dengan keluarga Majapahit (setelah trauma masa pernikahan Hayam Wuruk dan Citra Resmi pada masa Prabu Linggabuana, ayah Niskala Wastu Kancana).

Manuver pernikahan politik yang dilakukan Ningrat Kancana (menikahkan putrinya dengan pangeran Majapahit; ada ulasan juga termasuk dirinya) ini menimbulkan kekhawatiran dan penentangan dari pihak Sunda (Susuk Tunggal) hingga nyaris membawa pada pertentangan keras. Sebagai solusinya maka Ningrat Kancana dimakzulkan dan dinaikkanlah putranya Jaya Dewata yang kemudian hari menjadi pemersatu kembali Sunda-Galuh sebagai nobat Prabu Dewataprana Sribaduga Maharaja (dikenal dalam tradisi pantun sebagai Siliwangi).

Sekarang kita ajukan sedikit pemerincian gunung-gunung dan wilayah administrasi (dangka dalam istilah naskah) yang dibentuk pada masa Nusia Larang dalam naskah Bujangga Manik tersebut beberapa di sini:

Eta na bukit Patuha, ta(ng)geran na Majapura. Itu bukit Pam(e)rehan, ta(ng)geran na Pasir Batang.

(Itu Gunung Patuha, penopang Majapura. Itu Gunung Pamerehan, penopang Pasir Batang.)

Itu ta na Gunung Kumbang, ta(ng)geran alas Maruyung, ti kaler alas Losari,

(Itu Gunung Kumbang, pilarnya Maruyung, ke arah utara wilayah Losari.)

Itu ta bukit Caremay, tanggeran na Pada Beunghar, ti kidul alas Kuningan, ti barat na Walang
Suji, inya na lurah Talaga.

(Itu Gunung Ceremay, pilarnya Pada Beunghar, di selatan wilayah Kuningan, ke baratnya
Walang Suji, di situlah wilayah Talaga.)

Itu ta na To(m)po Omas, lurah Medang Kahiangan.

(Itu Gunung Tampomas, di wilayah Medang Kahiangan.)

Itu Tangkuban Parahu, tanggeran na Gunung Wangi.
(Itu Gunung Tangkuban Parahu, pilarnya Gunung Wangi.)

Itu ta Gunung Marucung, ta(ng)geran na Sri Manggala.
(Itu Gunung Marucung, pilarnya Sri Manggala.)

Itu ta bukit Burangrang, ta(ng)geran na Saung Agung.

(Itu Gunung Burangrang, pilar dari Saung Agung.)

Selain Gunung Kumbang yang berada di sekitar Cilacap dan Berebes saat ini, kita bisa melihat daftar nama wilayah tersebut berada di sekitar kawasan Cekungan Bandung pada dinding-dinding terluarnya (Bandung Dilingkung ku Gunung). Gunung Patuha jelas di Ciwidey, Gunung Ceremey jelas di Garut, Gunung Tompo Omas kini jadi Gunung Tampomas jelas di Sumedang, Gunung Tangkuban Parahu (kini Gunung Tangkubanparahu) jelas di Bandung, Burangrang jelas di Bandung. Marucung disebutkan berada di antara Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Burangrang, barangkali berada sedikit ke Utara kawasan cekungan Bandung. Pada setiap gunung yang dijadikan tempat berpijak dangka-dangka dan mandala-mandala terah berdiri; tidak sungguh kosong melompong. Tanggeran mungkin yang akan berkembang jadi kata Tangerang; sebangun dengan kata tetengger, tengger, berpijak atau tempat berpijak.

Dari Panenjoan di Gunung Papandayan Bujangga Manik memerinci kawasan tersebut sebelum kemudian bergerak ke Gunung Sembung tempat dimana hulu Citarum berada. Di sana Bujangga Manik bertapa satu tahun lamanya. Sebagaimana telah diulas sebelumnya pada bagian tulisan sebelumnya.

Beuteung bogoh ku sakitu, saa(ng)geus ing milang gunung, saleu(m)pang ti Pane(n)joan,
sacu(n)duk ka Gunung Se(m)bung, era hulu na Ci-Tarum, di inya aing ditapa, sa(m)bian
ngeureunan palay.

(Setelah mengagumi semua hal itu, setelah melihat pegunungan, setelah meninggalkan
Panenjoan, setiba di Gunung Sembung, yang merupakan hulu Sungai Citarum, di sana aku
singgah bertapa, sambil melepas lelah.)

Problem yang muncul adalah dimana letak Gunung Sembung tempat hulu Citarum ini berada? Karena di kesempatan yang lain yang akan dikemukakan Bujangga Manik juga melintasi Cisanti di Gunung Wayang namun dia tidak memutuskan untuk singgah dan bertapa hanya terus berjalan saja. Di sini cukup wajar untuk timbul dugaan jika Gunung Wayang dan Cisanti dengan Gunung Sembung dan Hulu Citarum yang dimaksud Bujangga Manik pada masa tersebut berbeda. Selanjutnya kita akan melihat arah pergerakan Bujangga Manik dari Gunung Sembung sebagai Hulu Citarum adalah menuju ke Utara lalu bergerak ke Barat. Sambil bergerak ke Utara dia memerinci arah-arah gunung di Utaranya tersebut. Gunung Karesi, Gunung Langlayang, Gunung Palasari, dan Gunung Pala.

Gunung Langlayang bisa diduga kuat Gunung Manglayang di Ujungberung saat ini. Di Baratnya memang masih bernama Gunung Palasari sebagai titik dimulainya Patahan Lembang (Lembang Fault). Jika Bujangga Manik bergerak dari Selatan ke Utara maka di Timur dia harus menunjuk Gunung Karembi yang menjadi salah-satu sumber mataair sungai Citarik yang melahirkan Curug Cinulang (Sindulang). Gunung Karembi ini memenuhi sarat untuk ditunjuk dan dilalui Bujangga Manik ketika akan bergerak mendekati Gunung Langlayang. Maka selepas Gunung Palasari tiada ada lagi gunung yang mencolok kecuali Gunung Bukittunggul yang merupakan gunung tertinggi di kawasan Bandung Utara. Gunung Bukittunggul ini bisa menjadi kandidat bagi Gunung Pala pada masa silam. Begitu cepatnya nama-nama berubah.

Sadiri aing ta inya, leu(m)pang aing ngaler barat. Tehering milangan gunung: itu ta bukit
Karesi, itu ta bukit Langlayang, ti barat na Palasari.

(Sepergiku dari sana, berjalanlah aku ke utara-barat, melihat pegunungan: itulah Gunung
Karesi, itulah Gunung Langlayang, di baratnya Gunung Palasari.)

Ngalalar ka bukit Pala. Sadatang ka kabuyutan, meu(n)tas di Cisaunggalah, leu(m)pang aing
ka baratkeun, datang ka bukit Pategeng, sakakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Ci-Tarum, burung te(m)bey kasiangan.

(Berjalan melewati Gunung Pala. Setiba ke tempat suci, menyeberangi Sungai Cisaunggalah, aku berjalan ke barat, tiba di Gunung Pategeng, peninggalan Sang Kuriang, ketika akan membendung Citarum, tetapi gagal karena matahari keburu terbit.)

Dari sudut perjalanan ini kita dapat menduga jika Bujangga Manik bertapa di sekitar Danau Ciharus saat ini di Darajat Pass di bawah Gunung Rakutak jalur yang menghubungkan Garut dan Majalaya. Jarak ini lebih mendekati daripada Bujangga Manik bergerak dari Cisanti di Gunung Patuha. Gunung Rakutak ini dahulu bisa menjadi kandidat Gunung Sembung dan hulu Citarum. Hal ini tidak menyalahi kaidah karena aliran sungai Citarik saat ini yang keluar dari Ciharus menuju Rancaekek dan Majalaya lalu bersatu dengan arus bersar Citarum dari Cisanti adalah anak sungai Citarum juga. Dan bisa jadi pada skema pemikiran masa silam, titik terjauh Citarum di hulu bukan diarahkan ke Cisanti melainkan ke Ciharus yang dianggap jauh lebih utama untuk dinisbatkan sebagai hulu Citarum. Demikian juga sepintas saya melihat dalam peta cekungan Bandung dari masa kolonial Belanda, aliran sungai Citarum utamanya diarahkan menuju ke Majalaya.

Sehinga rutenya dari Gujung Papandayan menuju ke Gunug Sembung (saat ini Gunung Rakutak) di sini bertapa setahun. Lalu bergerak ke Utara melalui Gunung Karesi (sekarang Gunung Karembi) lalu ke Gunung Langlayang (Gunung Manglayang) lalu ke Gunung Palasari hingga ke Gunung Pala (Gunung Bukittunggul). Rutenya memutari kaki-kaki tertinggi yang aman menuju Rancaekek, Cileunyi, Cibiru, Ujungberung, Palintang, lalu Maribaya. Di sini ada kabuyutan tua yang saat ini dikenal dengan nama Batuloceng. Suatu geger yang diapit Gunung Bukittunggul dan Gunung Palasari. Di kawasan inu juga tinggalan arca-arca dari langgam statik pernah banyak ditemukan. Jadi jalan lintasan ini adalah jalan yang sudah tua. Di kawasan ini aliran sungai mengalir dari Gunung Bukit Tunggul mengikuti dinding Patahan Lembang berarah Timur menuju ke Barat yang kemudian berbelok ke Selatan di kawasan Maribaya ke Kota Bandung saat ini. Jika benar analisanya, sungai ini pada masa silam dinamai Cisanggarung. Setiba dari Palintang Bujangga Manik akan menyeberanginya. Kawasan yang bisa jadi disebut Saunggalah sebagaimana nama sungainya. Di daerah ini juga terdapat nama tempat yang menarik untuk dikaji dan ditelaah lebih baik Suntenjaya yang mengindikasikan sudah tercatat dalam sejarah-sejarah masa silam.

Dari Cisaunggalah Bujangga Manik bergerak terus ke Barat melalui jalan Maribaya menuju Kota Lembang. Seandainya saja Bujangga Manik tidak memerinci bahwa ada gunung lain yang bernama Gunung Tangkuban Parahu, maka analisa akan jatuh bahwa Bukit Patenggeng adalah Gunung Tangkubanparahu yang menjadi bagian narasi Sangkuriang Kabeurangan. Sayangnya Gunung Tangkuban Parahu dan Bukit Patenggeng dua gunung yang tidak sama. Sehingga Bujangga Manik masih terus bergerak ke Barat melalui Parongpong, Cisarua, dan menembus ke Tagog Padalarang. Dia kali ini tidak menggunakan jalur Utara seperti Wanayasa. Namun demikian dia pasti akan bergerak tetap tembus ke Cikalong Wetan (Bandung) dan Cikalong Kulon (Cianjur).

Di dalam naskah selanjutnya dari Bukit Patenggeng tersebut tempat Sakakala Sangkuriang berada. Bukit Patenggeng itu jelas dekat aliran sungai Citarum sebelum dia masuk ke wilayah Cianjur dengan menyeberangi kembali Cihea dan Cisokan yang keduanya hingga saat ini masih ada. Kita belum bisa memastikan dengan presisi, karena di Purwakarta dekat Tol Padalarang juga terdapat Bukit Patenggeng ke Utaranya tentu masih terhubung dengan Waduk Citara dari aliran Citarum. Namun terlalu melambung ke Utara. Di Selatan secara tradisi lisan yang paling kuat terdapat Sanghyang Tikoro yang berada di kawasan Waduk Saguling yang lebih kuat dikaitkan dengan penyumbatan Citarum. Saya menduga Bukit Patenggeng dalam radius pencarian adalah mendekati antara kawasan Cimeta saat ini hingga kawasa Waduk Saguling seperti Sanghyang Tikoro, dan kawasan Puncak Larang yang menjadi dinding Saguling. Jadi penyeberanhan berada sedikit lebih ke Selatan dari penyeberangan Citarum sebelumnya.

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan, meu(n)tas aing di Cihea, meu(n)tas aing di Cisokan, datang ka lurah Pamengker.

(Telah kulalui daerah itu, aku menyeberangi Sungai Cihea, aku menyeberangi Sungai Cisokan, pergi ke daerah Pamengker.)

Cu(n)duk aing ka Mananggul, ngalalar ka Li(ng)ga Lemah.

(Tibalah aku di Mananggul, berjalan melewati Lingga Lemah.)

Tuluy datang ka E/ronan, /na(n)jak ka Le(m)bu Hambalang.

(Lalu aku pergi ke daerah Eronan, mendaki [Gunung] Lembu Hambalang.)

Sadatang ka Bukit Ageung, eta hulu Ci-Haliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga
Wama:

(Setiba di Gunung Ageung, itu hulu Sungai Ciliwung, tempat suci dari Pakuan, danau suci
Sanghiang Talaga Warna:)

Jadi kuat diduga Bukit Patenggeng berada di kawasan Rajamadala Cipatat ke arah Selatan. Dari sini terlihat rute Bujangga Manik agak lebih panjang untuk bisa tiba ke alas Eronan (Cipanas) dan Puncak (peebatasan Cianjur-Bogor). Bukit Patenggeng, Cihea, Cisokan, Pamengker, Mananggul, Linggalemah, baru tiba ke Eronan. Setelah Eronan mendaki Lembu Hambalang disini dapat diduga jalur menanjak dari Cipanas menuju Puncak disebut Lembu Hambalang. Dari Lembu Hambalang, Bujangga Manik tiba ke Gunung Ageung (saat ini Gunung Gede), yang merupakan hulu sungai Cihaliwung (sekarang Ciliwung), pisat kehidupan air Pakuan. Di sana terdapat danau dan mandala yang disucikan Sanghiang Talaga Warna.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan ketua Yayasan Buana Varman Semesta (BVS). Adapun Yayasan Buana Varman Semesta (BVS) itu sendiri, memiliki ruang lingkup perhatian yang diwujudkan dalam tiga bidang, yakni: (1) pendidikan (Department of Education) dengan unit kerja utamanya yang diberi nama The Varman Institute – Pusat Kajian Sunda (2) Ekonomi (Department of Economy) dan (3) Geografi (Department of Geography) dengan unit kerja utamanya yang diberi nama PATARUMAN – Indigo Experimental Station.

Pada saat ini penulis tinggal di Perumahan Pangauban Silih Asih Blok R No. 37 Desa Pangauban Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat (merangkap sebagai kantor BVS).

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan,

menerbangkan doa dan harapan,

atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".