Bujangga Manik tiba kembali di komplek istana di Pakancilan, disambut ibunya dengan penuh rasa sukacita dan adegan upacara kasih sayang. Segala makanan dan sesajian disiapkan. Nama ibunya tersebut dalam kisah disebut dengan nama Tohaan dan ditulisan lainnya disebut Ratu Bancana. Keberadaan Bujangga Manik yang tengah bernama Ameng Layaran diketahui oleh Jompong Larang seorang wanita pelayan dari Tohaan wanita bernama Ajung Larang atau dalam ditulisan lainnya Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.

Dari rute perjalanan yang ditempuh oleh Jompong Larang dari tempat Ajung Larang Sakean Kilat Bancana ke tempat Ratu Bancana dapat diketahui jika mereka tinggal pada suatu komplek istana yang terpisah namun masih dalam satu induk kesatuan kawasan yang sama di pusat ibukota Pakuan. Antara tempat Ajung Larang dan Ratu Bancana dipisahkan oleh dua buah sungai kecil, Cipanangkilan di Barat yang menjadi komplek Ajung Larang dan Cipakancilan di Timur yang menjadi komplek Ratu Bancana. Jompong Larang berjalan melalui Pakeun Dora, menyeberangi Cipanangkilan, menuju Pakeun Teluk, lalu tiba di Cipakancilan. Di Pakancilan, Jompong Larang melihat Ameng Layaran yang mempesona dan kembali dengan segera untuk memberitakan kehadirannya dan segala keutamaannya kepada Tohaan.

Ameng Layaran atau Bujangga Manik atau yang sesungguhnya Prabu Jaya Pakuan dikatakan Jompong Larang lebih tampan dari Banyak Catra, dari Silih Wangi, dan dari keponakan Ajung Larang sendiri. Cukup mengherankan dalam pengungkapan cerita tersebut Jompong Larang seakan-akan tidak mengenal Ameng Layaran itu siapa, padahal dalam seting kuno maka seluruh pembesar dalam seluruh perkomplekan adalah masih disusun dalam satu kekerabat yang sama. Di sini juga tidak dihadirkan sosok ayah Ameng Layaran yang juga sekaligus suami Ratu Bancana.

Suatu penggambaran yang agak halus bahwa suasana psikologis keluarga sedikit bermasalah dimata seorang Ameng Layaran. Ada suatu rasa kecewa dan ketidakmengertian yang tengah dirasakannya. Namun dituliskan dengan sangat lembut dan samar, tidak dengan terang-terangan dan vulgar. Dalam suatu percakapan yang terjadi ketika Amemg Layaran memutuskan untuk kembali pergi untuk kedua kalinya, sempat terlontarkan kata-kata agak kasar khas seorang anak yang marah pada orang tuanya. Bahwa ibunya dan neneknya telah andil dalam melakukan suatu kesalahan sehingga membuat pertumbuhan jiwanya menjadi gusar dan tidak nyaman untuk menetap seperti itu. Juga sempat dikatakan bahwa dirinya adalah anak pahatu (piatu). Pahatu itu Piatu dan piatu itu berakar dari bahasa Arab (Yatim dan Piatu) jadi tidak benar sama sekali jika dalam naskah Bujangga Manik clear tanpa kehadiran kosa kata serapan Arab.

Sayangnya di sini sekali lagi sudut percakapan sudut pembicara kabur dan baur tidak jelas siapa yang sedang berbicara dan mengeluh. Pembaca naskah bisa menafsirkan jika ibunya menyalahkan dirinya sendiri sekaligus meminta maaf kepada Ajung Larang bahwa anaknya belum siap. Namun bisa juga pembaca melihatnya Ameng Layaran yang tengah membudalkan keluh kesah dan penghakimannya kepada ibunya. Suatu keadaan jiwa dimana penulisnya tampak terlalu terlibat dalam perasaan yang masih membekas dalam kenangan. Di tulisan lain ketika di Puncak pada kali kedua setelah dari arah Jawa, Bujangga Manik sempat gusar antara ingin kembali ke istana atau melanjutkan perjalanan ke Ujung Kulon. Di sana dikatakan dia merindukan ibu bapak dan mahapandita. Kalimat yang membuat ragu pembaca apakah bapaknya sudah tiada ataukah belum.

Pada perjalanan kedua rutenya adalah melalui Pakancilan, Umbul Medang, Gonggong, Umbul Songgol, Leuwi Nutug, Mulah Malik, Pasagi, Bala Indra, Paniis, Tubuy, menyeberangi Cihaliwung, Sanghiang Darah, Caringin, Bentik, Bala Gajah, Mayanggi, Kandang Serang, Ratu Jaya, Kadu Kanaka, Cileungsi, Gunung Gajah, Bukit Caru, Citeureup, Tandangan, Cihoe, Ciwinten, Cigeuntis. Dan kemudian dikatakan dalam naskah:

“Sana(n)jak aing ka Goha, sacu(n)duk aing ka Timbun, sacu(n)duk ka bukit Timbun, datang aing ka Mandata, meu(n)tas aing di Citarum, ngalalar ka Ramanea.

(Senanjak aku ke Goha, seturun aku ke Timbun, seturun aku ke Bukit Timbun, setiba aku di Mandata, menyeberang aku di Citarum, melalui Ramanea.)”

Bukit Sempil, Bukit Bongkok, Bukit Cungcung (bagian Saung Agung), Cilamaya, Cipunagara (bagian Medang Kahiangan), Tompo Omas, Cimanuk, Pada Beunghar, Cijerukmanis, Conam, Ceremay, Timbang, Hujung Barang, Kuningan Darma Pakuan, Luhur Agung, Cisanggarung, ujung Sunda, Arega Jati, Jalatunda (sakakala Silih Wangi), Cipamali, Gunung Agung, wilayah Barebes.

Secara umum disini dikatakan bahwa rute yang diambil untuk bergerak ke Timur agak berlainan dengan perjalanan awal. Bujangga Manik tidak bergerak menuju ke arah Puncak yang saat ini berada di antara Cianjur dan Bogor, melainkan langsung bergerak ke arah Timur melalui jalanan yang lurus dan datar. Kalau pada masa sekarang rutenya adalah Bogor menyeberangi Cihaliwung yang menjadi sungai Ci Liwung menuju ke arah Depok dan kemudian ke arah Bekasi. Timbun bisa menjadi kata penciri yang pada saat ini berubah sedikit saja fonetiknya menjadi Tambun. Di antara Karawang dan Bekasi aliran sungai Ci Tarum pada bagian hilir mulai mengalir dengan lebih lambat dan tergenang tenang.

Dari Bekasi bergerak ke arah Purwakarta dan Subang dan kemudian ke arah Medang Kahiangan yang saat ini menjadi Sumedang Larang terus menuju Tompo Omas (sekarang Gunung Tampomas). Menyeberangi Ci Manuk memasuki Majalengka modern menuju ke kaki Gunung Ceremey hingga masuk ke daerah Kuningan Darma Pakuan yang saat ini menjadi Kuningan. Dari Kuningan menuju Luhur Agung. Luhur Agung itu kemungkinan dalam logat bahasa Jawa Ngapak Banyumasan akan menjadi Lur Agung atau Lor Agung. Orang berbahasa Sunda di sekitar Cilacap dan Berebes akan menyebutnya kawasan Dayeuh Luhur yang menembus ke arah Bumiayu, Aji Barang, dan Majenang. Lalu tibalah di ujung demarkasi kekuasaan Sunda Di ujung kawasan tersebut didapati Arega Jati dan Jalatunda.

Arega kemungkinan dari bahasa Sanskrit Arga artinya Gunung. Arga Jati adalah Gunung Jati atau mungkin bisa diartikan juga Hutan Jati. Sementara Jala Tunda dalam bahasa Sanskrit berarti Mulut Air. Mungkin maksudnya adalah suatu mata air atau bisa berkembang menjadi kolam petirtaan, suatu tempat pemandian. Dikatakan di dalam naskah jika Jalatunda adalah Sakakala Silih Wangi. Sakakala adalah penanda, monumen, atau kekaryaan yang dibuat Silih Wangi. Letaknya di ujung kawasan Sunda dekat aliran sungai Kali Pemali (Ci Pamali) di sebelah Barat. Barngkali bisa dilacak secara toponimi saat ini apakah masih didapati nama tersebut.

Membaca Silih Wangi dalam naskah ini telah dua kali didapati. Satu ketika keluar dari mulut Jompong Larang seakan-akan Jompong Larang sangat mengetahui Banyak Catra, Silih Wangi, sebagaimana juga Jompong Larang mengetahui keponakan laki-laki Ajung Larang. Sementara kali ini Silih Wangi dilekatkan pada suatu monumen kekaryaan yang sifatnya pernah terjadi. Seakan suatu kenangan yang lampau yang membuat Bujangga Manik jika merupakan suatu sosok yang real dan hiatoris harus diletakkan pada babak dibawahnya. Hanya saja problem-problem sejarah akan muncul jika Bujangga Manik diletakkan dibawah periode Silih Wangi atau Sri Baguda Maharaja.

Di bawahnya adalah akan berarti sezaman dengan anak-anak Silihwangi seperti Surawisesa yang meneruskan tahta Sunda dan Walangsungsang atau Cakrabuana yang merintis kawasan Islami sebagai cikal-bakal Kesultanan Cirebon ketika dilanjutkan oleh keponakannya Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) di kawasan Galuh. Atau jika di bawah periode Surawisesa dan Walangsungsang maka akan masuk zaman Sunan Gunung Jati di Cirebon (Sultan Kedua setelah Walangsungsang) dan Raden Fatah di Demak (Sultan Pertama).

Zaman Gunung Jati dan Raden Fatah akan terbatalkan karena alas Demak belum terbentuk sebagai suatu kekuatan politik administrasi yang mencolok dalam naskah tersebut. Cirebon juga belum menjadi toponimi penting yang dicatatkan Bujangga Manik di dalam kertas kerja naskahnya. Dia hidup harus lebih tua dari masa Gunung Jati dan Raden Fatah. Pada masa Surawisesa, Walangsungsang merancang Cirebon ketika ayah mereka masih menjadi Maharaja atas Sunda dan Galuh. Di sini sekali lagi Cirebon belum didirikan, baru kekuatan tunggal Malaka yang beredar di lautan. Sementara meletakkan Bujangga Manik di atas periode Silih Wangi sesuai dengan catatan tersebut akan membuat kekacauan yang lebih lagi.

Bujangga Manik tidak boleh tidak dia harus diletakkan pada kertas kerja zaman yang sama dimana Prabu Siliwangi mudah tengah sebaya dengannya. Belum memiliki Walang Sungsang yang mendirikan Cirebon. Suatu waktu menjelang arus kedatangan muhibah Laksamana Ma Cheng Ho yang membawa serta Syeh Quro ke pesisir Utara kawasan Galuh yang saat itu masih berupa Singapura dan Surantaka dalam berita naskah-naskah lainnya. Atau sesuatu yang perlu dipertimbangkan juga jika Bujangga Manik adalah salah satu fase petualangan muda lainnnya daripada Sri Baduga Maharaja lainnya yang dikenal juga dengan nama Ragasunu, Jaya Dewata, Panah Rasa, Silih Wangi, dan beberapa julukan lainnya.

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)