Topi Lapangan

Apa yang dimaksud dengan topi dalam bahasa Urdu dan thaqiyah dalam bahasa Arab tersebut, tidak sama dengan pengertian topi dalam tahap perkembangan bahasa Indonesia pada waktu sekarang. Topi dalam bahasa Urdu dan thaqiyah dalam bahasa Arab, sebenarnya merujuk pada apa yang dalam bahasa Indonesia sebut dengan kata peci. Lebih tepatnya ‘peci haji,’ yakni topi dengan bentuknya yang bulat seperti kubah dan warnanya yang cenderung putih. Sementara peci dengan bentuknya yang seperti perahu dan warnanya yang cenderung hitam, biasa disebut dengan kata khusus kupiah atau songkok. Istilah peci yang terdapat dalam bahasa Indonesia sendiri, sebenarnya berakar dari bahasa Turki, yakni pezzi atau pez. Sementara Turki sendiri memperolehnya dari kebudayaan Yunani, yakni sejak Sultan Mahmud II (1784-1839 M) melakukan pembaharuan pada dinas ketentaraannya. Sehingga surban Arab (imamah) pada akhirnya digantikan oleh pezzi atau pez yang secara teknis diambilnya melalui rantai pewaris kebudayaan Yunani (Helenis) itu sendiri, yakni Romawi. Sementara istilah kupiah dalam bahasa Indonesia, juga berakar dari bahasa Arab; kufiyah. Yakni selembar kain persegi yang bisa dilipat menjadi persegi tiga dan kemudian digunakan sebagai penutup kepala dengan cara ditudungkan, dibelitkan, atau untuk sekedar dikalungkan di leher saja. Hebatnya, dalam bahasa Indonesia; pengertian kufiyah sebagai kain yang dililitkan pada masyarakat Arab tersebut, dalam bahasa Indonesia disebutnya dengan nama surban. Suatu istilah yang berakar dari bahasa Persia, dulband atau turban. Semenatara songkok, ada yang menduganya berasal dari bahasa Inggris skull cap yang kemudian mengalami metamorfosa menjadi songkok. Sementara bahasa Belanda, juga sempat menjadi tempat bagi transisinya istilah Turki; pezzi atau pez menjadi petje. Yakni kata dasar pet (dari bahasa Turki, pezzi atau pez) dengan kebiasaan memberikan imbuhan akhir –je dalam tradisi bahasa Belanda. Maka jadilah pezzi atau pez (Turki) tersebut sebagai kata petje (Belanda) dan kemudian peci dalam bahasa Indonesianya.

Namun demikian, apa yang dimaksud dengan topi dalam pengertian bahasa Indonesia modern; selain merujuk pada maknanya yang umum sebagai berbagai jenis topi; maka secara khusus bermakna suatu jenis topi yang secara khusus dirujuk sebagai baseball cap dalam tradisi berbahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris sendiri sebenarnya terdapat dua istilah untuk merujuk pada apa yang dimaksud dengan pelindung kepala (topi). Yakni hat dan cap, entah apa yang menjadi perbedaan utamanya. Hanya saja, citarasa hat cenderung bermakna menutupi lebih banyak bagian kepala. Sementara cap cenderung menutupi bagian kepala secara minimalis. Namun demikian, terlepas dari adanya perbedaan istilah tersebut; baik istilah hat maupun cap, pada dasarnya sama-sama menjalankan fungsinya sebagai pelindung kepala. Atau dengan kata lain merujuk pada apa yang dimaksud dengan konsep modern, perlengkapan kepala (headgear) atau ‘yang dikenakan oleh kepala’ (headwear). Kabarnya, kosa-kata hat sendiri berakar dari bahasa Sakson (induk bahasanya disebut Gothic), suatu bahasa yang tiba ke wilayah kepulauan Inggris Kuno pada abad ke-5/6 M; yakni Haet. Sementara cap, bisa jadi berakar dari bahasa Arab kufiyah atau bahasa Ibrani kipah.

Meski dalam kedudukan yang sama-sama sebagai rumpun bahasa Semit, apa yang dimaksud dengan kata Arab kufiyah dan kata Ibrani kipah tampaknya ada sedikit perbedaan mendasar. Apabila kufiyah merujuk pada sehelai kain (square scarf), yang terkadang disebut juga dengan kata: ghutrah, syimargh, hathah, masyadah, atau imamah. Yakni suatu kemajemukkan istilah kufiyah berdasarkan situasi khususnya berkaitan denganwarna, pola, dan cara mengenakannya. Bila dibelitkan di kepala sebagaimana dalam tradisi Parsi dulband atau turband misalnya, maka jadilah kufiyah ini sebagai imamah. Meski biasanya, kain yang digunakan untuk imamah menggunakan ukurannya yang lebih panjang agar tampak sempurna dalam tahap pembelitannya. Sementara istilah kipah dalam bahasa Ibrani, merujuk pada apa yang dalam bahasa Arab sebut dengan kata thaqiyah dan bahasa Urdu topi. Namun demikian, keterhubungan gagasan antara kufiyah dan thaqiyah sebenarnya dekat. Karena ketika menggunakan kufiyah, maka masyarakat Arab akan menggunakan thaqiyah pada lapisan dalamnya. Dengan kata lain, antara kufiyah dan thaqiyah adalah sesuatu yang identik. Sehingga cukup wajar dan alogis, apabila kosa-kata Arab kufiyah (baca: kufi-yah) dan juga kosa-kata Ibrani kipah (baca: kipa-(a)h), dianggap memberikan inspirasi bagi lagirnya kosa-kata dalam bahasa Inggris cap.

Sementara apa yang dimaksud dengan kata Urdu topi dan Arab thaqiyah, dalam bahasa Inggris sebut dengan kata skull cap. Dimana skull merujuk pada tulang keras pelindung otak (tempurung kepada), dan cap bermakna secara umum sebagai topi. Sementara apa yang dirujuk dengan kata baseball cap, dapat diketahui dengan mempelajari ciri-cirinya sebagai berikut: yakni bentuknya seperti kubah, dimana masih terlihat asosiasinya dengan bentuk dasar topi (Urdu) dan taqiyah (Arab), sementara pada bagian dasar di depan topinya terdapat unsur tambahan berupa bidang datar yang membujur ke arah depan. Bidang datar tersebut bentuknya mengesankan sebagai tudung (‘canopy’) yang dapat dilengkungkan agar terlihat lebih stylis, atau sebenarnya dapat berfungsi untuk memberikan daya visual yang lebih fokus pada waktu seseorang berjalan atau berlari pada waktu menggunakannya. Sementara bagian mata sendiri, menjadikannya terlindung dari silaunya pancaran sinar matahari dan juga tetesan air pada waktu turunnya hujan. Namun demikian, meskipun baseball cap ini secara teoritik bisa melayang-layang kepada cerita kufiyah dan kipah atau juga topi dan taqiyah; tapi secara praktik jelas diketahui kelahirannya pada waktu digemarinya tradisi olahraga baseball di Amerika Serikat. Adalahtim amatir Brooklyn Excelsiors yang pertamakali menggunakannya sejak tahun 1860 M, kemudian disusul oleh tim profesional Cincinnati Reds pada tahun 1888 M. Sehingga, jikapun harus diperhubungkan; maka pith helmet kemungkinan dapat dijadikann sebagai kandidat dan sumber inspirasi teknisnya yang lebih dekat. Yakni suatu jenis penutup kepala yang biasa digunakan orang Eropa antara tahun 1840-1870 M untuk menunjang kegiatannya dalam bidang penjelajahan (explorers) dan lintas-batas (travelers). Dimana bentuknya seperti pelindung kepala (helmet) yang biasa digunakan pekerja konstruksi modern. Apabila pith helmet memiliki tonjolan (‘pith’) pada bagian depan dan belakangnya, maka baseball cap hanya memiliki pada bagian depannya saja. Sementara pada pith helmet bentuk tonjolan tersebut pendek, maka pada baseball cap tonjolan tersebut menjadi lebih lebar dan panjang. Sesekali, tonjolan pada baseball cap ini secara tidak baku diputar orang ke arah belakang dan digunakannya. Dengan demikian, secara prinsipil masih terasa citarasanya yang melekat dan mengesankan adanya fungsi dasar sebagai pelindung (protector) yang keras dan kaku daripada sekedar menjalankan fungsi alamiahnya sebagai pelindung cuaca. Dari identitas olahraga baseball, topi jenis ini dapat diterima sebagai citarasa umum olahraga (sporty style). Dari citarasa umum olahraga, kemudian berkembang pesat seiring pemaknaannya atas ketersediaan ruang bagi tumbuhnya daya ekspresi, eksistensi, kreatifitas, dan periklanan. Dimana pada bagian depan topi, dapat digunakannya untuk mencantumkan logo, gambar, dan tulisan sesuai dengan apa yang diinginkan. Meski berakar dari tradisi masyarakat sipil, pihak militer dan kepolisian juga pada akhirnya menggunakan jenis topi ini untuk melengkapi identitas dan menyokong aktifitas profesinya. Sementara bagi komunitas penggiat alam, jenis topi ini memberikan alternatif lain untuk pergi ke lapangan. Jika dibandingkan dengan topi rimba yang cenderung identik dengan medan berat dan alamiah, maka baseball cap menjadi jawaban dalam kegiatan lapangan (outdoor) yang cenderung lebih lembut dan bernuansa perkotaan (urban tactical). Biasanya, sebagian masyarakat memberikan istilah “topi pet” sebagai alternatif bagi baseball cap; untuk menghindari gamangnya penyebutan dengan kata umum “topi” saja. Dengan demikian terlihat adanya usaha menerjemahkan “baseball cap” (disebut juga “contractor cap”) tidak secara lugas dan kaku sebagai “topi bisbol” (atau “topi kontraktor”) saja. Melainkan dengan cara memberikan waktu bagi tumbuhnya keterikatan secara emosional (psikologis) dan landasan berpijaknya secara sosio-kultural. Namun demikian, istilah topi pet yang kemungkinan masih berakar dari bahasa Belanda itu, tampaknya belum mampu memberikan asosiasi kreatifnya yang kuat dan tepat untuk bisa dipertautkan dengan nama baseball cap dalam penerimaannya yang massif. Sehingga ada baiknya jika istilah topi lapangan yang biasa dipertukarkan dengan topi rimba sebagai padanan bagi boonie hat, dapat disumbangkan kepada baseball cap sebagai istilah alternatif. Dengan demikian, sebut saja “topi pet” sebagai padanan kata Inggris baseball cap itu jika dirasa sudah nyaman, atau sebut saja “topi lapangan” sekiranya dapat memberikan geliat yang lebih baik; setidaknya bagi khazanah petualangan Indonesia. Salam! Deputy Sheriff of Varman Dynasty Corp. (Sabtu, 10 April 2016)

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Penulis merupakan Jaro Puhu (Ketua Umum) pada Yayasan Buana Varman Semesta (BVS). Adapun Yayasan Buana Varman Semesta (BVS) itu sendiri memiliki ruang lingkup perhatian yang diwujudkan dalam Tiga Pilar Utama, yakni Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pelatihan (Department of Education, Teaching, and Training) dengan unit kerja unggulannya bernama The Varman Institute – Pusat Kajian Sunda. Kedua Bidang Ekonomi dan Perdagangan (Department of Economy and Commerce) dengan unit kerja unggulannya bernama House of Varman – Pusat Perdagangan Sunda. Dan ketiga Bidang Lingkungan dan Konservasi (Department of Environment and Conservation) dengan unit kerja unggulannya bernama Bujangga Manik Geotrek – Pusat Penjelajahan Sunda.

Pada saat ini penulis tinggal di Perumahan Pangauban Silih Asih Blok R No. 37 Desa Pangauban Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat).

"Menulis untuk ilmu dan kebahagiaan. Menerbangkan doa dan harapan atas hadirnya kejayaan umat Islam dan bangsa Indonesia".