BAB III

Kata Kunci ‘Angaraja’ Dan Asal Muasal Istilah ‘Jalma Burung’

Melanjutkan apa yang telah saya tulis pada bab titik nol, maka saya ingin mengatakan hal ini setelah saya membaca situs-situs yang berkaitan dengan sejarah Cimahi. Ada yang bilang kalau Cimahi dahulu kala bernama Cilokotot, dan kalau menurut saya itu ada benarnya tapi ada juga kurang tepatnya. Kemudian akan salah kaprah jika ada yang mengatakan bahwa tak ada nama Cimahi pada zaman Cilokotot, sebab pada saat itu nama Cimahi itu sudah ada. Dan satu hal lagi, sejarah Cimahi tidak mungkin lepas dari sejarah Bandung. Mengapa saya bisa sampai berpendapat seperti hal-hal di atas? Begini ceritanya.

Saat saya telusuri sejarah Cimahi dengan menggunakan kata kunci ‘angaraja’ maka dari sanalah langkah pertama petualangan saya dalam menelusuri sejarah Cimahi itu dimulai. Awalnya, pada mesin Mbah Google saya ketikkan kata ‘angaraja’ itu lalu kemudian situs-situs yang muncul tidaklah memuaskan. Rata-rata situs-situs itu malah membahas Sisinga Mangaraja atau yang membahas tentang marga keturunan suku Batak, ada pula yang membahas tentang Bali. Selain itu yang membahas mengenai arti kata nama ‘angaraja’ pun ada. Ada yang bilang angaraja itu terdiri dari dua kata yaitu anga dan raja. ‘Anga’ adalah nama salah satu tempat di Janapada (surga) yang terdapat pada kisah Mahabharata, sementara ‘raja’ ya penguasa. Jadi angaraja adalah penguasa wilayah Anga. Selain itu ada juga yang menjelaskan arti kata angaraja yang katanya berasal dari bahasa sanskerta yang berarti ‘manusia terbaik’. Setelah bolak-balik ke sana ke mari dengan kata kunci itu, saya pun mulai stress. Tapi kemudian saya ingat kalau Angaraja itu pasti hidupnya pada zaman Belanda, melihat pohon beringin tua di kuburannya yang lebih tebal, lebih rimbun daripada pohon beringin di taman parterre Villa Isola, UPI. Akhirnya saya ketikkan ‘angaraja’ dengan ejaan Belanda pada Mbah Google, ‘j’ itu saya menjadi ‘dj’. Akhirnya saya ketikan‘angaradja’. Namun ternyata hasilnya masih tetap sama, masih kebanyakan membahas Sisingamangaraja. Akan tetapi saya tidak menyerah pada halaman pertama pencarian Mbah Google. Saya kemudian menelusuri halaman keduanya. Saya pun mendapatkan buku tua gratis yang telah berbentuk digital. Buku tersebut adalah cetakan tahun 1867 yang ditulis oleh Otto van Rees yang berjudul Overzigt van de geschiedenis der Preangerregentschappen, yang kurang lebih artinya adalah Tinjauan Sejarah Kebupatian Priangan.

Pada dokumen itu, tepatnya pada halaman 87 sampai 88 terdapat bagian yang membahas tentang penunjukkan seorang ‘Kapala Regent Bandoeng’ oleh VOC yaitu Raden Anga Radja. Nama asli dari Raden Anga Radja adalah Raden Anga di Redja. Kemudian, di sana saya juga menemukan informasi bahwa Raden Angaradja merupakan anak dari ‘Regent Bandoeng’ (Bupati Bandung) sebelumnya yaitu ‘Kjai Demang Timbangantang’(Kyai Demang Timbanganten, ditetapkan menjadi Regent Bandoeng pada 15 November 1684 di Cirebon) yang baru saja meninggal. Raden Anga Radja tersebut kemudian ditetapkan oleh Pemerintah VOC untuk menggantikan Kjai Demang Timbangantang ‘Regent Bandoeng’ pada tanggal 17 Desember 1704.

Mengenai detil proses penetapan itu sendiri saya dapatkan informasinya dari buku terjemahan yang ditulis oleh seorang sosiolog Belanda, yaitu Jan Breman yang berjudul Keuntungan kolonial dari kerja paksa : sistem Priangan dari tanam paksa kopi di Jawa 1720-1870. Pada tahun 1677, Mataram, di bawah kepemimpinan Amangkurat I, telah menyerahkan kekuasaannya terhadap seluruh pesisir utara Jawa, termasuk Priangan kepada VOC berdasarkan perjanjian kerjasama militer sebagai imbalan bagi VOC karena telah membantu menumpas Trunojoyo. Kemudian pada tahun 1684 telah terjadi formalisasi atau implementasi perjanjian tersebut dengan memanggil semua kepala daerah Priangan ke Cirebon untuk menegaskan dan menetapkan bahwa wilayah Priangan tidak lagi berada di bawah Cirebon yang merupakan kepanjangan tangan Mataram yang berada di wilayah pesisir, melainkan langsung di bawah VOC.

Kemudian Distrik Bandung tidak lagi menjadi distrik, dan statusnya naik menjadi Regent. Saat itu Raden Anga Radja mewakili ayahnya yang telah meninggal dan kemudian ditetapkan menjadi pemimpin lanskap Bandung atau Regent van Bandoeng menggantikan almarhum ayahnya yang pada saat itu jumlah kepala keluarga yang ada di lanskap Bandung adalah kurang lebih sebanyak 1000 KK. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, lanskap Bandung itu sangat luas, tapi pada tahun 1684 hanya ada 1000 KK, lalu pada saat itu lanskap Bandung itu mencakup wilayah mana saja? Sudah adakah sebuah wilayah yang bernama Tjilokotot saat itu?

Yang menarik di sini adalah, dengan yakin saya katakan bahwa pada tahun 1684 tersebut, pusat kota Bandung yang ada pada saat ini justru belum ada, bahkan masih berupa hutan belantara. Hal ini bisa dibuktikan dengan kisah titik nol kota Bandung yang saya dapatkan saat dulu tahun 2008 turut berpartisipasi dalam menelusuri sejarah Kota Bandung bersama Komunitas Aleut. Saat Daendels membangun De Groot Postweg atau Jalan Raya Pos, Daendels menancapkan sebuah tongkat di tempat yang masih menjadi terra incognito alias tempat tak dikenal yang masih berupa hutan belantara. Kemudian dia bilang, “Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd (Usahakan nanti kalau aku datang ke tempat ini lagi, maka harus sudah jadi sebuah kota).”

Selain itu bahkan dari buku Memoir of the Conquest of Java yang ditulis oleh Major William Thorn yang merupakan perwira Kerajaan Inggris, saat itu dia dan pasukannya melewati Bandung pada tahun 1815 dia mengatakan bahwa Bandung berada di posisi yang tidak strategis dan juga tidak menyehatkan karena berada di atas tanah berawa.

Kembali kepada pertanyaan tentang cakupan wilayah Bandung tahun 1684 dan mengenai Tjilokotot tersebut, maka saya kemudian teringat sebuah lembaga yaitu Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Dan saya pun bertanya-tanya, jangan-jangan ANRI punya koleksi digital. Akhirnya, saya kembali ke Mbah Google mencari situs ANRI, dan ternyata memang ada. Lalu di sana ternyata koleksi digitalnya luar biasa yang di dalam situs tersebut disebutnya dengan ‘Harta Karun’. Hal yang saya cari pertama kali adalah peta. Saya kemudian mencari peta dengan kata kunci ‘Bandoeng’. Saya sampai merinding melihat arsip peta digital tersebut. Saya menemukan peta kuno Bandoeng beserta peta distrik-distrik di bawah Regent Bandung tanpa angka tahun. Peta tersebut berhasil diarsipkan oleh Dr. Frederik de Haan yang bertugas di Hindia Belanda pada tahun 1905-1929. Distrik-distrik itu di antaranya adalah Tjilokotot, Oedjoengbroeng Kidoel, Oedjoengbroeng Kaler, Bandjaran, Tjiparaj, Madjalaja, Tjitjalengka, Limbangan, Tjikemboelan, Timbanganten, Tjikao, dll.

Dari sana tentunya saya langsung menuju ke peta Tjilokotot. Peta tersebut masih berupa sketsa tangan bukan hasil cetakan. Di sisi utara Tjilokotot dibatasi oleh Boerangrang, di sebelah timurnya sampai melebihi daerah Tjimindi tepatnya di sebuah wilayah yang bernama Tjibentenoe (mungkin maksudnya Cibuntu). Di sebelah baratnya sampai Tangoeloeng, dan di sebelah selatannya sampai Rantjamoentjang.

Pusat distrik Tjilokotot di dalam peta itu digambarkan dengan sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari Baros yang jika saya banding-bandingkan dan saya pas-paskan dengan peta Mbah Google maka pusat distrik Tjilokotot itu ada di daerah Kerkof. Semua nama wilayah yang ada di peta tersebut adalah berupa desa. Dan ternyata telah ada desa yang bernama Tjimahie yang letaknya kurang lebih di daerah alun-alun Cimahi sekarang. Selain itu, Tjimahie juga adalah nama sungai yang mungkin kalau saya paskan dengan peta Mbah Google sekarang sungai itu namanya Leuwi Goong.

Kemudian nama ‘Angaradja’ ternyata sudah ada tertera di dalam peta itu, bersanding dengan desa Tjiledoeg yang menurut Bapa saya sekarang Tjiledoeg sudah berganti nama menjadi Tani Mulya. Berarti ini adalah bukti bahwa peta itu dibuat setelah Raden Angaradja sudah meninggal dan kemudian dijadikan nama desa atau kampung. Selain bukti itu saya juga yakin peta itu dibuat setelah dibangunnya De Groot Postweg (Jalan Raya Pos) oleh Daendels, sebab pada peta tersebut Jalan Raya Pos sudah terlihat melintang.

Kemudian saya penasaran, pada koleksi peta tersebut saya ketik lagi kata Tjimahie. ternyata ada sebuah distrik yang menjadi bagian wilayah Regent Tjiandjoer yang bernama distrik Tjimahie. Saya punya hipotesis, orang-orang dari wilayah distrik Tjimahie wilayah Tjiandjoer tersebut bermigrasi ke wilayah Tjilokotot lalu mendirikan desa Tjimahie. Sementara orang-orang yang dari Tjiteureup dan Tjisaroea, Buitenzorg (Bogor), itu kemudian datang ke Tjilokotot dan mendirikan desa Tjiteureup dan Tjisaroea.

Apa yang saya temukan pada peta-peta tersebut masih belum menjawab pertanyaan cakupan wilayah Bandoeng saat tahun 1600-an, terus saya cari-cari lagi di situs ANRI. Dan saya mendapatkan sebuah dokumen yang lagi-lagi membuat saya gemetar. Dokumen itu adalah mengenai laporan sensus penduduk Priangan tanggal 6 Maret 1686 yang telah dilakukan oleh dua orang pegawai VOC yaitu Claes Hendriksz dan Jan Cartensz. Dan menurut situs ANRI dokumen itu adalah berisi data paling awal mengenai sensus penduduk zaman VOC.

Dokumen sensus tersebut yang telah dibuat transkripsinya bernama dokumen cacah-somah (sensus penduduk) di wilayah Priangan, yang pada saat dilakukan sensus statusnya masih berupa Regentschapp atau setingkat Kabupaten yang memiliki tujuh distrik utama atau setingkat kecamatan. Di sana dapat tergambar keadaan sosial masyarakat Priangan saat itu yang didapat dari data-data berupa tabel yang mencantumkan mengenai nama distrik, nama kepada distrik, nama desa, nama kepala desa, jumlah pajak tahunan yang telah diberikan kepada VOC oleh setiap distrik, mata pencaharian penduduk di setiap desa, beserta jumlah KK di setiap desa serta jumlah total KK di setiap distrik. Ketujuh distrik utama Priangan saat itu adalah Distrik Gabangh, Cawassin, Soukapoera, Bandongh, Paskamountsiang, Sammadangh dan Indramayou. Menurut M. Radin Fernando, di dalam artikelnya di dalam situs ANRI, ‘desa’ yang dalam bahasa Belandanya disebut ‘dorp’ merupakan istilah yang kurang tepat, lebih tepat disebut pemukiman saja.

Di bawah ini adalah penjelasannya. Untuk selain distrik Bandongh, maka hanya penjelasan singkat, sementara khusus distrik Bandongh saya sajikan lengkap dengan tabel berisi data-data nama desa, kepala desa, pajak tahunan, dan mata pencahariannya. Hal ini saya lakukan agar kita bisa bersama-sama mengamati.

Distrik Gabangh
Kepala Distrik Gabangh ini bernama Soetadjaya. Untuk Distrik Gabangh, saya tidak tahu lokasi distrik ini ada di mana. Tapi pada saat saya melihat daftar nama desa, di sana terdapat satu desa yang bernama Soebang, Goenoegsari, Tjipantjor jadi saya berkeyakinan bahwa distrik ini lokasinya adalah Kabupaten Subang pada saat ini, penduduknya rata-rata berprofesi sebagai peladang dan petani sawah, sianya adalah pekebun buah, pekebun kapas dan kemiri, nelayan, peternak kerbau dan sapi. Distrik ini memiliki total 42 dusun dan 581 KK. Seluruh dusun di Distrik ini telah membayar pajak tahunan, ada yang berupa uang, ada yang berupa hasil bumi, dan ada juga yang membayar dengan wajib kerja istana.

Distrik Cawassin
Kepala Distrik Cawassin ini adalah Tomm. (Tumenggung) Soetananga. Lokasi distrik ini saya menduganya ada di wilayah Ciamis dan sekitarnya. Sebab di sana ada desa yang bernama Tjiamis, Pasirnagara, dan Tjikaso. Mata pencaharian penduduk distrik ini rata-rata adalah sebagai penghasil kapas, tikar rotan, lada, dan kapolaga. Distrik ini memiliki
total 43 dusun dan 398 KK. Pada data ini disebutkan bahwa distrik ini tidak membayar pajak karena yakin sudah membayar.

Distrik Soekapoera
Kepala Distrik Soekapoera ini bernama Tomm. (Tumenggung) Wiradadaha. Disttrik ini terletak di kawasan Tasikmalaya saat ini. Mata pencaharian penduduk Soekapoera rata-rata adalah penghasil anyaman tikar, katun, sisanya penghasil bawang putih, lada, pewarna dan lilin. Distrik ini memiliki total 108 dusun dan 1144 KK. Pada data ini disebutkan bahwa distrik ini tidak membayar pajak tapi sebelumnya sudah membayar 1000 ringgit.

Distrik Paccamountsiang
Distrik ini sekarang ada sebagian wilayahnya ada di daerah Cibiru dan Ujungberung dan sebagian lagi di wilayah Sumedang. Yang dimaksud dengan Distrik Paccamountsiang adalah Distrik Parakanmuncang. Wilayah pusat Parakanmuncang sendiri saat ini bernama Cimanggung Kabupaten Sumedang, sementara nama Parakanmuncang sendiri menjadi nama jalan. Penghasilan distrik ini adalah hampir sama dengan distrik Soekapoera yaitu penghasil anyaman tikar, katun, sisanya penghasil bawang putih, lada, pewarna dan lilin, dan sisanya adalah penghasil gelagah dan sangkar burung.

Sammadangh
Distrik ini dikepalai oleh kepala distrik yang bernama Rangga Gompol. Distrik Sammadangh ini sekarang bernama Sumedang. Penghasilan distrik ini mungkin adalah yang paling mewah saat itu. Bahkan mungkin tergolong distrik yang makmur. Hal ini dapat
dibuktikan dengan mata pencaharian penduduk yang lain daripada yang lain. Penduduk Samadangh sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kuda, penghasil kayu jati, peternak kijang, pengrajin tembaga tempa, dan sisanya adalah penghasil bawang, selai
pisang, beras, gula, bawang dan lada. Distrik ini memiliki total 181 dusun dan 953 KK. Pada data ini tidak terdapat keterangan mengenai pajak yang dihasilkan dari distrik ini.

Yang unik dari Sumedang adalah citra makmur Sumedang yang saya rasakan saat melihat laporan tahun 1686 tersebut ternyata dirasakan juga oleh Major William Thorn yang melakukan perjalanan ke Sumedang tahun 1815 atau 129 tahun kemudian. Seperti halnya dia menggambarkan Bandung, di dalam Memoir of The Conquest of Java, dia menyebutkan bahwa Sumedang disebut sebagai kota besar yang indah. Di sana terdapat beberapa dusun yang berada di wilayah pertanian yang menghampar luas, terdapat lembah dan bukit-bukit yang berjajar, pegunungan, dan perbukitan aneka warna yang silih berganti jika berjalan di sana. Gambaran fisik penduduknya dia sebutkan sebagai orang-orang yang warna kulit dan wajahnya lebih cerah dengan perawakan semampai yang berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya. Para wanitanya juga terlihat cantik-cantik.

Indramajou
Distrik ini dikepalai oleh kepala distrik yang bernama Ang. Wieraloddra. Distrik Indramajou ini sekarang bernama Indramayu. Penghasilan distrik ini sebagian besar adalah bersawah, nelayan, dan penghasil garam. Distrik ini adalah distrik terkecil yang memiliki total 22 dusun dan 284 KK. Pada data ini tidak terdapat keterangan mengenai pajak yang dihasilkan dari distrik ini.

Bandongh
Distrik ini yang dikepalai oleh kepala distrik yang bernama Deman Timbangan[..] (Demang
Timbanganten). Penghasilan distrik Bandongh sebagian besar adalah penghasil gula, tikar, bawang merah, bawang putih, dan zat pewarna. Distrik ini adalah distrik memiliki total 77 dusun dan 1056 KK12. Pada data ini, Bandongh tidak membayar apa-apa tetapi sebelumnya 1000 ringgit. Khusus untuk distrik ini saya akan menampilkan tabel laporan cacah-somah distrik Bandongh.

Nama DistrikNama DesaNama Kepala DesaRumah Tangga (KK)Pajak TahunanMata Pencaharian
BandonghBandonghDeman Timbangan[.]40sekarang tidak membayar apa-apa tetapi sebelumnya 1000 ringgitgula, bawang, sapi
TjisasawiJaggawanghsa20
TjilamePraya wanghsa15
PassirpogarNarajoeda21
PatoyladjarNayadiepa6
TandocknangsiDjiwamarta20
TjetapenPatradjaya15
LagadarWangsapati5
Pamong pockSourana22Zat pewarna dan tikar
TjilladooghTandaprana18
GoenoengpahingonPoespanalla20
LembackSingamarta5
ParoenghDietawangsa5
Tjondock HajoeSara Wiedja3
SangkangdjatiSarapatti5
Canbangh SerangAngapatra4
PahinghanGatjaprana8
MandoengcoeliBraadjawatjana4
TjigintoonghTirtanaya5
ZoerwanghiHantalaya6
LalaronNallawisa5
SallagadanghSallakalningh5
MaleherMaadja10
RaadjaTjandracorti22
OedjoonghPrayadiwangsa26Gula dan tikar
PassirhipisJoedamarta16
PantonghnagonghAnganalla16
TjipantjarBadrawantjana16
SoucabarosAngasouta21
TjitjaraDjayapoespa5
RaadjaRaxa Diprana33
SanckandjatiSingapraya22
SahoonghpariAgradorpa10
SampooraImbasara15
Salad JambeDjangamarta16
PanigarranWangsa Chitra20Gula dan sapi
BandjarranSadra10
TjimoentjanghSinga Karja9
CoorogawockMargadieta9
TjipatickRatnaas[.]17
TjiminjakRasim14
TjipoetriSinasar16
TjiganghsanghDorpasouta17
MoelakyanAgrajoeda33
ZigadewaPringanalla7
Goenongh TigaPatragoena3
TjiloemboenghSammagoena5
MalabarSallapraya5
TjigoenonghSingantacka5
TinbangantangSatjadita77Gula, bawang dan bawang putih
SawaSaradjiwa8
BatoenongolSantagati5
Passir RamisDjagapraya4
TjiparootDietasraya6
Ca[w]assanWielacorta7
KajoedjatiJoedapraya6
Ko[.]ehebDorpagoena13
ZombackwangiWangkid40
TjicapaAngadria10
TjondoecayoeWangsapraya8
PagierangienCortanalla7
MoharaadjaBaggus Soeta7
Ma[.]eherDjoetapraya6
Ha[.]dassaPoerwadjaya3
Ta[...]Waroena7
ZengkonghSoutadjaya8
Tjipondoymartacassoema5Gula dan tikar
Thi[.]ameNallapraya4
OedjonghbalookWangsadjaya35
PassirSarantacka25
Wa[..]sSingadjaya15
Tji[.]gonghPraya Ita7
Djo[.]oodjoghHastapraya5
Sa[na]kanNallacrama4
Tji[.]llakSigrawatsjana19
HinihihanghMartadiwangsa20
TjimbenghNaya Taroena10
77 dusun1026 rumah tangga
Tabel 1 Data Cacah-Somah Priangan 1686 (koleksi digital ANRI)

Bisa kita lihat dari gambaran data-data tersebut dusun-dusun yang ada di distrik Bandongh hanya dusun atau desa Timbangantang (Timbanganten) yang paling banyak KK-nya yaitu 77 KK. Dan yang paling sedikit adalah 3 KK yaitu Ha[.]dassa, Goenongh Tiga, dan Tjondock Hajoe. Sementara jumlah KK rata-rata per dusun adalah 13,3 KK.

Misalkan, jika kita perkirakan di dalam satu rumah tangga (KK) terdiri dari 5 orang, maka jumlah penduduk Priangan saat itu hanya 5130 orang, dan jumlah penduduk rata-rata per dusun 66,5 orang. Kemudian bisa kita bayangkan distrik Bandongh tersebut terhampar luas dari Kabupaten Bandung (Bandjaran), Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat (Tjipondoy (Tjipeundeuy)). Berdasarkan data BPS 2018 masing-masing wilayah,
Kabupaten Bandung luas wilayahnya adalah 1762,39 Km2, Kota Bandung memiliki luas
167,31 Km2, Kota Cimahi memiliki luas 40,02 Km2, dan KBB memiliki luas 1305,77 Km2. Jika luas keempat wilayah tersebut dijumlahkan maka luas wilayah distrik Bandongh saat itu adalah 3275,49 Km2. Dengan perkiraan jumlah penduduk sebanyak 5130 orang, maka rata-rata jumlah penduduk distrik Bandongh adalah 1,56 orang setiap 1 Km2.

Dengan gambaran seperti itu, berarti lanskap Bandongh saat itu sangat jarang penduduk. Jangankan pada tahun 1686, pada tahun 1830, Andries de Wilde pun bilang bahwa Bandung masih kosong dan cocok untuk perluasan lahan pertanian. Selain itu, De Wilde juga mengatakan bahwa di Pringan ini terdapat keanehan, yaitu harga manusia lebih mahal daripada tanah, sebabnya adalah dia memiliki tanah yang lebih luas dari sebuah provinsi di Belanda.

Kemudian pada pemukiman yang jarang penduduknya, maka pemukiman itu tidak stabil dan
sewaktu-waktu dapat menghilang karena perpindahan orang-orangnya yang begitu mudah. Hal ini sesuai dengan informasi dari Jan Bremen bahwa hal tersebut dikarenakan mereka tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka mengembara dari satu tempat kosong yang satu ke tempat kosong yang lain. Jan Bremen pun menemukan catatan seorang pengembara Swedia, bernama J.A. Stutzer, yang bertualang ke tanah Priangan dan bertemu dengan para pengembara tersebut yang hanya dilengkapi oleh peralatan sederhana untuk bertani yaitu hanya golok, parang, dan kored. Yang mereka lakukan adalah membabat hutan untuk membuka lahan lalu mereka tanami padi yang sangat sedikit, panennya kira-kira tiga setengah bulan tanpa perawatan. Memang pekerjaannya sedikit tapi pekerjaan yang mereka lakukan itu sangat beresiko saat misalnya ada binatang liar yang merusak atau tidak turun hujan, maka sia-sialah usaha mereka itu. Selain itu mereka pun lebih beresiko untuk melakukan kejahatan. Mereka termasuk golongan orang-orang yang nekat sebab mereka berani untuk merambah hutan yang pada saat itu masih banyak terdapat harimau jawa dan badak. Oleh masyarakat saat itu, golongan para petani pengembara seperti itu dianalogikan seperti burung yang bisa bebas terbang ke sana ke mari tanpa beban. Nah dari sanalah muncul istilah ‘jalma boeroeng’. Berdasarkan banyaknya orang-orang yang seperti itu maka tidak heran jika dusun-dusun atau desa tersebut bisa dikatakan sangat tidak stabil. Bisa sewaktu-waktu menghilang tiba-tiba.

Kemudian, kembali lagi pada Tjilokotot, maka sangat jelas terlihat pada tabel data-data sensus tersebut, kita bisa melihat bahwa di dalam daftar tersebut tidak ada daerah bernama Tjilokotot. Jadi bisa dipastikan pada tahun 1686 tersebut, wilayah Tjilokotot masih berupa hutan belantara. Lalu, kapankah wilayah Tjilokotot mulai ditempati?Mengapa ditempati? Lalu mengingat di Tjilokotot ada Kampung Angaraja dan ada makam Raden Anga Radja atau
Anggadiredja, apakah Tjilokotot dulu pernah menjadi pusat pemerintahan (meskipun
sementara) Regent Bandoeng yang tempatnya di Kampung Angaradja itu? Jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan itu akan saya jawab pada bab selanjutnya.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.