BAB II

Titik Nol Penelusuran

Titik nol penelusuran sejarah Cimahi ini berawal dari informasi yang saya dapatkan dari hasil wawancara saya dengan ayah saya. Sebetulnya sih bukan wawancara, tapi memang sudah
dasarnya ayah saya senang bercerita mengenai adat istiadat Sunda, bahasa Sunda yang baik dan benar, dan juga perihal tentang garis keturunan leluhur alias nasab atau dalam bahasa sunda disebut pancakaki. Ayah saya sering menjelaskan mengenai istilah-istilah pancakaki tersebut atau sebutan-sebutan untuk para leluhur. Dari mulai bapa, aki, uyut, bao, jangawareng, udeg-udeg, kait siwur, hingga kalau bisa dan mampu maka bisa ditelusuri pancakaki kita sampai Nabi Adam.

Selain itu katannya saya itu adalah keturunan menak dan harusnya saya memakai gelar Raden, tapi menurut saya gelar itu tidak penting karena tidak akan mengubah apa pun, hanya sebatas romantisme masa lalu belaka. Kemudian, cerita ayah saya itu pun bukan terjadi baru-baru ini, melainkan sudah lama sekali, mungkin pada saat saya masih SMA sekitar tahun 1998-an saat sedang panas-panasnya reformasi. Kata ayah saya lagi, leluhur saya itu adalah priyayi yang berasal dari daerah Timbanganten, Garut. Namun sayang, ayah saya tidak tahu namanya dikarenakan banyak missing link di dalam silsilah keluarga kami. Leluhur saya itu kemudian bermigrasi ke daerah Kampung Legok, Jalan Angaraja, yang orang-orang Kampung Legok itu sekarang tidak mau wilayahnya disebut Kampung Legok, tapi lebih memilih disebut daerah Kompleks Veteran, Cimahi, mungkin biar lebih trendi.

Kemudian, di Kampung Legok itu sendiri, selain terdapat lembah yang menjadi sawah, di sana pun terdapat sebuah bukit kecil yang masyarakat sekitar menamainya dengan Gunung Leutik. Kata ayah saya, di puncak Gunung Leutik itu terdapat sebuah kuburan keramat. Kuburan orang zaman dulu, namanya Angaraja, yang sampai sekarang nama itu juga menjadi
nama jalan yaitu Jalan Angaraja yang melintasi Kampung Legok alias Kompleks Veteran. Saya pun waktu kecil sering bermain ke Gunung Leutik bersama teman saya untuk mendaki ke puncaknya, dan memang benar, suatu kali saya pun tiba di sebuah kuburan tua yang hampir tak terlihat karena tertutupi pohon beringin besar, tua, dan berakar-akar menggelantung-gelantung berusia ratusan tahun, yang katanya sangat angker. Dulu, jika dilihat dari bawah, maka puncak Gunung Leutik itu tandanya ya pohon beringin besar itu. Sekarang karena sudah banyak bangunan di lerengannya jadi agak terhalang. Pada tahun 1998 itu, saya penasaran juga, tapi tidak tahu harus melakukan apa dan mencari ke mana. Internet pun belum populer, bahkan komputer pun saya masih akrabnya dengan DOS, WS dan Lotus, yang anak milenial zaman now bisa jadi tidak tahu singkatan-singkatan itu.

Kemudian, baru-baru ini saat saya teringat kembali cerita itu, keinginan saya untuk menelusurinya semakin menggebu, bisa jadi jasad yang terkubur di Gunung Leutik adalah leluhur saya, dan lebih jauh lagi mungkin dengan menelusuri sosok Angaraja, maka mungkin saja akan kita temukan sejarah Cimahi yang hilang mengingat penampakan kuburan itu yang sangat tua, yang mungkin usianya sudah ratusan tahun.

Dari informasi tentang Angaraja, kemudian saya mengembangkannya dengan menemui salah satu tokoh Kota Cimahi yaitu Drs. Yus Rusnaya pada tanggal 19 Juni 2019 di rumah kediamannya yang memang tinggal di wilayah Kompleks Veteran,sekalian silaturahmi Lebaran. Kepadanya saya tanyakan kembali siapakah Angaraja itu. Kemudian dari jawaban beliau ada sebuah informasi yang sangat penting perihal Angaraja itu, bahwa katanya dia adalah tokoh zaman dulu, kolot baheula, nama aslinya sebetulnya bukan Angaraja tapi
Raden Anggadireja.

Setelah saya mendapatkan informasi awal dari ayah saya dan dari paman saya, yang merupakan tokoh masyarakat Kota Cimahi tersebut maka dimulailah penelusuran itu yang saya anggap sebagai petualangan yang sangat seru. Seolah-olah saya seperti menjadi Indiana Jones dengan diasisteni buku-buku dan Mbah Google yang memiliki kemampuan mencari dan menerjemahkan. Dan saya pun mendapatkan dokumen-dokumen dan hal-hal yang sangat mencengangkan tentang Cimahi.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.