BAB I


Urban Civic Pride Sebagai Latar Belakang

Saat ini, secara KTP saya bukan lagi penduduk Cimahi. Namun saya merasa diri ini tetaplah orang Cimahi, karena walau bagaimanapun Cimahi adalah tanah kelahiran saya, tempat saya menghabiskan masa kecil, masa remaja, hingga saya beranjak dewasa. Dari semenjak telah ditetapkannya Cimahi menjadi sebuah kota mandiri, saya melihat geliat dari semua sektor kehidupan masyarakat Cimahi yang menurut saya sangatlah dahsyat. Akan tetapi dari semua geliat tersebut ada suatu hal yang menurut saya masih kurang, bahkan sangat mendasar yaitu penelusuran sejarah Cimahi itu sendiri.

Awalnya, kekurangan tersebut saya dapatkan akibat melihat ulang tahun kota-kota besar yang ada di Indonesia. Rata-rata usianya ratusan tahun. Seperti saya ambil contoh misalnya, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Jakarta saat ini usianya telah menginjak 492 tahun semenjak kelahirannya yaitu tanggal 22 Juni tahun 1527. Selain itu, Kota Bandung pun berusia 209 tahun yang lahir pada tanggal 25 September 1810. Sementara Surabaya yang lahir pada tanggal 31 Mei tahun 1293 itu kini usianya telah menginjak sangat tua yaitu 726 tahun. Sebagai orang yang lahir di Cimahi, yang dulu pada saat saya lahir masih berupa Kotif alias kota administratif yang merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, saya baru menyadari bahwa usia Kota Cimahi masih sangat belia, yang pada hari kelahirannya diputuskan pada tanggal 21 Juni tahun 2001.

Setelah saya berpikir, mengapa Pemkot Cimahi tidak menetapkan ulang tahun Cimahi sesuai tanggal dan tahun yang benar-benar merupakan awal mula kemunculan nama Cimahi tersebut pada wilayah yang sekarang jadi Kota Cimahi itu? Atau kalaupun tidak, mengapa tidak mengambil tanggal dan tahun kelahirannya pada zaman dahulu kala seperti ketiga kota-kota besar itu? Setelah muncul pertanyaan itu kemudian disusul dengan sebuah pertanyaan lanjutan di benak saya yaitu sebetulnya kapan sih nama Cimahi itu muncul terlepas statusnya sebagai sebuah kota atau apapun itu?

Pertanyaan tersebut menurut saya sangat penting untuk dijawab karena sejarah sebuah kota merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kebanggaan masyarakatnya akan tempat tinggalnya. Pertanyaan itu bukan untuk memaksakan sejarah dari yang tidak ada menjadi ada. Bukan pula untuk membuat-buat sejarah. Tapi saya melihat banyak peluang untuk lebih dalam mengungkap sejarah Cimahi. Dan saya yakin sejarah Cimahi sangat panjang. Semakin panjang sejarah sebuah tempat maka masyarakatnya akan semakin bangga. Seperti halnya masyarakat Kota Paris yang bangga akan sejarah kotanya yang panjang. Selain itu, saya sempat membaca sebuah artikel ilmiah yang berjudul Urban Civic Pride and the New Localism yang ditulis oleh Tom Collins, seorang akademisi Universitas Leeds. Dia mengatakan yang intinya adalah membangun kebanggaan masyarakat sebuah kota itu penting karena hal itu dapat membentuk dan mencerminkan nilai-nilai politik yang diperjuangkan oleh pemerintah kota tersebut serta memberikan landasan bagi pemerintah kota itu di dalam menjalankan strategi pembuatan kebijakan dengan menggunakan kebanggaan masyarakat tersebut akan kotanya itu. Misalnya Kota Paris yang memiliki catatan sejarah seni yang panjang yang secara otomatis masyarakatnya bangga akan sejarah itu, maka pemerintah kotanya itu selalu membuat kebijakan tanpa terlepas dari ruh seni itu sendiri yang menjadi
ciri khas kota Paris.

Jika saya adalah mahasiswa jurusan sejarah, mungkin saya sudah mendapatkan pertanyaan penelitian. Tapi karena saya bukan mahasiswa jurusan sejarah, maka saya tidak perlu membuat proposal penelitian untuk diseminarkan. Saya tinggal jalankan saja proses penelitian itu tanpa perlu otoritas kelembagaan yang hasilnya hanya semata-mata untuk memenuhi rasa penasaran saya karena saya bukan peneliti melainkan hanya sebagai orang yang penasaran belaka. Apa yang saya curahkan di dalam buku ini selanjutnya tidak ingin saya sebut ‘penelitian sejarah’, tapi saya sebut sebagai ‘penelusuran sejarah’ saja agar lebih enteng menjalankannya. Bisa jadi di sini saya ingin meniru alrmarhum Haryoto Kunto, Si Kuncen Bandung dengan buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe-nya, yang saya tahu beliau bukan berlatar belakang ilmu sejarah melainkan sarjana planologi ITB.

Nah, kemudian, setelah pertanyaan itu muncul maka saya melakukan penelusuran sejarah melalui dua macam strategi. Strategi pertama yaitu saya melakukan wawancara terhadap ayah saya yang memang daya ingatnya kuat dan beliau sangat tertib dalam mengarsipkan dokumen-dokumen zaman Belanda beserta foto-foto almarhum kakek saya. Apa yang ayah saya lakukan itu adalah juga ajaran dari kakek saya yang memang dididik oleh Belanda agar tertib arsip. Kakek saya itu seusia dengan Pramudya Ananta Toer, dan merupakan veteran perang kemerdekaan. Karakteristik kakek saya dalam memperlakukan arsip sama seperti Mas Pram yang merupakan tukang tabung arsip. Saya berkeyakinan bahwa hal itu adalah memang sebuah hal yang biasa terjadi pada orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan zaman Hindia Belanda. Selain itu saya juga pernah berdiskusi ringan mengenai hal ini dengan salah
satu tokoh masyarakat Cimahi yaitu Drs. Yus Rusnaya, yang juga merupakan paman saya, yang darinya saya mendapatkan sebuah informasi yang sangat penting bagi penelusuran ini. Selain itu pula saya dapatkan juga informasi-informasi berharga dari nenek saya tentang kehidupan zaman Belanda.

Kemudian, strategi yang kedua adalah melalui penelusuran dokumen-dokumen bersejarah yang di sana tercantum nama Cimahi. Penelusuran itu sendiri saya lakukan melalui perburuan dokumen bersejarah dengan bantuan Mbah Google dan juga buku-buku sejarah yang saya
miliki. Dan saya baru merasakan takjub dan memuji para sejarawan zaman dulu yang benar-benar melakukan penelitian saat belum ada Mbah Google, tapi mereka bisa menghasilkan hasil-hasil penelitian sejarah yang hebat. Mengenai dokumen-dokumen yang telah saya dapatkan itu sendiri sebagian besar adalah berupa dokumen yang telah didigitalisasi, yang berupa buku, laporan pemerintah, foto-foto dan koran-koran itu kebanyakan berbahasa Belanda. Awalnya saya stres bagaimana caranya saya bisa mengerti, tapi saya ingat bahwa Mbah Google punya kemampuan untuk menerjemahkan. Jadi saya bisa menyelam untuk melakukan pencarian melalui Mbah Google itu dengan kedalaman yang hampir tidak terbatas. Selain itu saya juga akhirnya terpaksa belajar kosakata bahasa Belanda, yang penting-penting yang berhubungan dengan sejarah.

ditulis oleh

Karguna Purnama Harya

Karguna Purnama Harya, adalah seorang pengajar privat bahasa Prancis, penulis, penggiat sejarah.