Risalah Tarum Areuy

(1) MAKNA TARUM DALAM KAMUS BAHASA SUNDA DAN KAMUS BAHASA INDINESIA

Oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana (The Varman Institute)

Dalam Kamus Umum Basa Sunda yang disusun oleh Panitia Kamus Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) yang diterbitkan oleh Penerbit TARATE Bandung (cetakan ketiga Juli 1981) Halaman 513, dikatakan bahwa: “Tarum, ng. tutuwuhan, cai daunna sok dipake nyelep lawon supaya jadi bulao kolot (meh hideung); il. nila.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia artinya akan berarti demikian: “Tarum, nama (ng./ngaran) tetumbuhan, air daunnya suka digunakan menyelup kain supaya jadi biru tua (agar hitam); lihat (il./ilikan) nila.” (oleh penulis)

Melalui keterangan kamus basa Sunda tersebut kita dapat mengetahui bahwa tarum adalah nama tetumbuhan yang daunnya biasa digunakan untuk membuat larutan pencelup berwarna biru. Pemilihan kata tetumbuhan menunjukkan maknanya yang bersifat jamak, karena bentuk kata tunggalnya berarti tumbuhan. Pemilihan kata tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan yang dapat menghasilkan zat pewarna biru itu tidak bersifat khusus melainkan bersifat umum. Sayangnya, pada kamus bahasa Sunda tersebut tidak diperinci lebih lanjut mengenai apa dan bagaimana tetumbuhan yang tergolong pada tarum itu.

Namun demikian, keterangan tarum dalam bahasa Sunda tersebut dapat menjadi lebih jelas dengan diperolehnya tambahan keterangan pada Kamus Umum Basa Sunda yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) yang diterbitkan oleh PN BALAI PUSTAKA Jakarta (cetakan kelima tahun 1976). Di sana dikatakan bahwa “Tarum: 1 n tumbuh-tumbuhan yang daunnya dibuat nila, ada bermacam-macam; seperti –akar, Marsdenia tinctoria R.Br.; –daun alus, Indigofera arrecta HOCHST; –hutan, Indigofera galegoides DC; –kembang, Indigofera suffruticosa MILL; 2 + hitam; biru tua; mis. harimau–; padi–.”

Melalui keterangan kamus bahasa Indonesia kita dapat mengetahui bahwa kata tarum tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Sunda melainkan juga dimiliki oleh masyarakat Melayu yang kemudian membentuk bahasa nasional Indonesia. Dalam kamus bahasa Indonesia tersebut dipaparkan jika tarum memiliki makna yang utama sebagai nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dibuat nila. Di sini kita mengetahui konsistensi makna yang sama bahawa tarum itu merupakan istilah yang bersifat generik/general (umum), tidak bersifat spesifik/spesial (khusus) pada tumbuhan tertentu saja, melainkan semua jenis tumbuhan yang dapat menghasilkan warna biru.

Dalam kamus bahasa Sunda terdapat diksi tutuwuhan (tetumbuhan) yang sebangun dengan kamus bahasa Indonesia yang memilih diksi tumbuh-tumbuhan, keduanya bersifat sama bahwa tarum merujuk pada tumbuhan yang bersifat jamak (tidak tunggal). Sementara kamus bahasa Sunda memilih diksi bulao kolot (biru tua) untuk merujuk pada dampak yang dihasilkan zat pewarna yang dihasilkannya terhadap kain. Maka kamus bahasa Indonesia lebih menekankan pada zat pencelup yang dihasilkannya yang dalam bahasa Melayu disebut dengan kata nila.

Dalam peribahasa Melayu terdapat istilah “Karena nila setitik rusak susu sebelanga” (karena kejelekan sedikit rusak kebaikan yang banyak). Nila di sini jelas dimaknai zat pewarna alam yang dihasilkan oleh tarum tersebut, warnanya hitam pekat namun akan memberikan dampak biru terhadap kain bersama campuran zat tambahan lainnya dan setelah zat tersebut berkontak dengan udara. Dalam kamus bahasa Sunda dampak terhadap kain ini yang dijadikan titik tekannya meskipun dijelaskan dengan sempurna soal adanya zat pewarna yang dihasilkan dari daun tarum tersebut.

Sebenarnya, akar pengertian nila itu sendiri yang lebih sejati dalam bahasa aslinya yakni Samskerta adalah biru. Barangkali pada kesempatan yang lain perihal asal-usul kata nilai ini akan kita pelajari. Pada hakikatnya, kedua kamus tersebut memberikan arah pengertian yang sama secara konsisten dan saling melengkapi.

Kelengkapan dalam perincian kata tarum terhadap aneka kekayaan tetumbuhan yang dapat menghasilkan zat pewarna alam yang dapat menghasilkan warna biru terhadap kain tersebut telah berhasil diperinci dalam kamus bahasa Indonesia tersebut, yakni: Tarum Akar (Marsdenia tinctoria R.Br.), Tarum Daun Alus (Indigofera arrecta Hochst), Tarum Hutan (Indigofera galegoides DC), dan Tarum Kembang (Indigofera suffruticosa Mill).

Pada langkah selanjutnya kita akan coba lihat, apakah keanekaragaman hayati dalam bahasa Melayu tersebut memiliki padanan katanya dalam bahasa Sunda. Dan kemudian bagaimana pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati tersebut dibicarakan dalam Ilmu Hayat (Biologi), utamanya dalam cabang yang paling relevan yakni Botani (Ilmu Tumbuhan) dan Taksonominya (Ilmu Klasifikasi Tumbuhan) dan juga Pitogeografi (Ilmu Persebaran Tumbuhan secara Geografis).

Sementara kita cukupkan bahwa tarum merujuk pada beberapa tumbuhan penghasil warna biru sebagaimana dirinci demikian. Dan sebagai tambahan, kata tarum berkembang dalam maknanya yang sekunder sebagai berarti hitam dan biru tua. Misalnya saja pada kasus penamaan Harimau Tarum dan Padi Tarum, dimana yang dimaksudkannya adalah Macan Kumbang (Sunda: Meong Congkong) dan Padi Hitam (Sunda: Beas Hideung). Makna tarum secara sekunder sebagai berarti hitam dan biru tua juga telah diisyaratkan dalam kamus bahasa Sunda sebagaimana diutarakan sebelumnya “… bulao kolot (meh hideung); biru tua (agar hitam).”

ditulis oleh

Gelar Taufiq Kusumawardhana

Ketua House of Varman, aktif menulis untuk Varman Institute. Tinggal di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat)