MELIHAT Obama di layar kaca, saya jadi teringat Mang Uned. Rambutnya itulah yang sama-sama ikal. Bedanya, Obama nun jauh di benua sana berhasil menjadi presiden, sedangkan Mang Uned sama sekali bukanlah tokoh terberitakan. Ia cuma seorang tukang jahit sederhana yang biasa mangkal di emper depan toko kelontong Pak Haji Dulah. Sebuah mesin jahit tua yang mestinya sudah didaur ulang siap mengerjakan order kecil-kecilan. Busana yang dihasilkannya tentulah yang sederhana pula. Maklumlah ia hanya melayani kebutuhan orang kampung.
Konon kabarnya, Mang Uned adalah jebolan pesantren. Pada saat lagi nyantri itulah ia belajar menjahit, yang selanjutnya menjadi sababiyah turunnya rijki dari Allah. Tak jelas pula, seberapa lama ia nyantri, serta sejauh mana kemampuannya dalam menguasai kitab kuning.
Yang saya tahu, ia belum pernah tampil sebagai mubaligh—yang mungkin karena bicaranya agak gagap. Namun, ada satu hal yang cukup menonjol, ia boleh dibilang menguasai ilmu waris. Entah apa latar belakangnya, dulu di pesantren kabarnya ia amat tertarik memperdalam faraidl, ketimbang kitab-kitab lainnya.
Kemampuannya sering teraplikasikan pada kehidupan warga. Jika sebuah keluarga akan buka waris, biasanya Mang Uned diundang untuk merumuskan bagian yang akan diterima setiap ahli waris. Dari apa yang saya dengar, “fatwa” Mang Uned selalu menjadi pegangan, serta tidak menyebabkan penerima warisan berbantahan.
Misalnya saja, sebidang tanah harus dibagi sembilan untuk ahli waris yang status atau levelnya berbeda-beda, Mang Uned tanpa kesulitan menentukan bagian masing-masing. Kalau perundingan akan mendekati dead-lock, Mang Uned langsung buka kitab. Ia hafal betul, halaman berapa yang memuat keterangan mengenai persoalan yang akan dipecahkannya.
Honornya? Ah, Mang Uned tak pernah pasang tarif. Dia tokh bukan seorang notaris. Ada kalanya ia cukup diberi beberapa kilo beras dari pihak yang “berperkara”. Atau pada lain waktu hanya mendapat pakaian tua peninggalan almarhum yang meninggalkan harta warisan.
Begitulah yang dilakukannya dari waktu ke waktu. Warga di kampung saya aman-aman saja, belum pernah ada yang bermusuhan gara-gara warisan, apalagi sampai berurusan di pengadilan.
Setelah menjadi kembara di kota besar, saya jarang sekali pulang kampung. Paling-paling pada saat lebaran, dan itu pun hanya satu-dua hari saja saya berada di rumah ibu. Sejak beberapa tahun yang lalu, ibu meninggal. Maka saya pun lebih jarang lagi menengok kampung, apalagi setelah adik-adik saya pun pergi mengembara ke kota lain. Rumah tempat dulu kami dibesarkan akhirnya dijual, karena tak ada yang menempati. Saya dan adik-adik tak perlu mengundang Mang Uned, mengingat proses bagi waris cukup diselesaikan di antara kami sendiri, serta masing-masing pihak tidak mematok bagian.
Lebaran kemarin, saya menyempatkan nyekar ke makam orang tua. Sudah banyak perubahan yang terjadi di kampung saya, yang ketika gencar-gencarnya program pembangunan banyak dilirik orang berduit dari kota. Bukit kecil yang dulu tandus, kini dipenuhi deretan vila. Kebun palawija yang di bawahnya mengalir sungai kecil, sekarang berganti rupa menjadi restoran mewah. Ada juga hotel yang lengkap dengan berbagai fasilitasnya, dikelilingi benteng kokoh dan terkesan angkuh.
Banyak warga yang mendadak makmur. Namun, itu hanya berlangsung sebentar saja. Karena tak punya kemampuan memenej, harta yang didapat dari menjual lahan akhirnya habis juga.
Lantas, bagaimana halnya dengan Mang Uned?
Ah, dia masih tetap seperti dulu, menerima order jahitan kecil-kecilan. Bedanya, sekarang ia sudah agak bungkuk dimakan umur.
Saya sempat mengajak dia ngobrol. Dan secara iseng-iseng saya tanya, masihkah diminta tolong dalam hal buka waris?
Mang Uned hanya angkat bahu, lalu katanya, “Di sini sudah tak ada lagi orang buka waris, tokh kekayaan yang didapat secara turun-temurun sekarang sudah berpindah tangan. Umumnya warga di sini sudah tak punya apa-apa lagi yang dapat diwariskan kepada anak-cucunya.”
Getir memang apa yang dikatakannya itu. Tiba-tiba saya jadi teringat pada kitab faraidl yang dulu sering digunakan Mang Uned sebagai rujukan—apakah masih sering dibaca walau sekadar untuk bernostalgia, atau sudah dia lupakan dan dibiarkan hancur dimakan ngengat?
Tapi, saya merasa tak tega menanyakan hal itu. Sumpah, saya tidak tega.*** (Tatang Sumarsono)